I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pada saat ini, kata manajemen begitu populer di masyarakat.
Namun apa sebenarnya pengertian manajemen itu sendiri orang selalu memberikan
pengertian yang berbeda-beda. Untuk itu dalam mempelajari manajemen perlu kita
ketahui tentang pengertian manajemen, defenisi manajemen dan gunanya
pendefenisian manajemen.Secara sederhana istilah Manajemen diartikan sebagai usaha yang
dilakukan untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai sasaran
tertentu.Dalam hal ini yang dimaksud dengan sumber daya adalah segala
sesuatu yang dimiliki dan menjadi aset organisasi/perusahaan yaitu manusia,
mesin dan peralatan, teknologi, bahan dan dana (Setyamidjaja, D, 1991).
Untuk mengetahui apa yang arti sebenarnya, beberapa pakar di
bidang manajemen memberikan pengertian, karena pengertian manajemen pada
umumnya saling berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, tetapi selalu
terdapat unsur-unsur kesamaannya. Beberapa pakar di bidang manajemen mencoba
memberikan pengertian dari manajemen itu:Jhon D. Millet, proses memimpin dan melancarkan pekerjaan dari orang-orang
yang terorganisir secara formal sebagai kelompok untuk mencapai tujuan yang
diinginkan, George R. Terry, proses tertentu yang terdiri atas
merencanakan, mengorganisasi, menggerakkan dan mengawasi. Keseluruhan proses
itu dijalankan secara berurutan dalam rangka usaha mencapai sasaran yang telah
ditentukan terlebih dahulu dengan perantaran orang laindan pakar lain (anonymous), suatu proses yang dimanfaatkan seorang pemimpin suatu
organisasi untuk memanfaatkan sumber-sumber yang dikuasai untuk mencapai tujuan
secara ekonomis, efisien dan efektif.
Perkebunan sebagai salah satu usaha agribisnis tidak bisa
lepas dari penerapan prinsip ekonomi dalam mempertahankan dan mengembangkan
eksistensinya. Prinsip ekonomi yang dimaksud adalah memaksimalkan
keuntungan dengan penggunaan sumber daya seminimal mungkin.Dalam hal ini
perusahaan dihadapkan dengan sumber daya yang terbatas dan harus dikelola
dengan efisien. Di sinilah diperlukan prinsip atau perilaku manajemen
agar tidak terjadi pemborosan sumber daya yang tersedia.Tidak seorang pun
menyukai pemborosan pikiran, tenaga, waktu, materi dan biaya serta kegagalan
dalam usaha mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu sebaiknya selalu
menganut perilaku manajemen, yang selalu memperhatikan perencanaan atau
pemikiran, pengaturan atau persiapan, dan pemantauan terhadap pelaksanaan untuk
mengetahui apakah hasilnya sudah sesuai dengan yang dikehendaki sebagaimana
yang direncanakan sebelumnya (Anonim, 2008).
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini yaitu, untuk
mengetahui aspek-aspek manajemen perkebunan kelapa sawit, Aspek agribisnis
kelapa sawit, Aspek perencanaan perkebunan kelapa sawit, Aspek manajemen
operasional dan Aspek keuangan dan pembiayaan.
1.3 Manfaat
Praktikum
Manfaat
dari pelaksanaan praktikum kali ini yaitu, mahasiswa dapat mengetahui
aspek-aspek manajemen perkebunan kelapa sawit, Aspek agribisnis kelapa sawit,
Aspek perencanaan perkebunan kelapa sawit, Aspek manajemen operasional dan
Aspek keuangan dan pembiayaan.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Ruang Lingkup Manajemen
Perkebunan
Saat ini, kelemahan dalam manajemen kebun di Indonesia cukup
banyak untuk diperhatikan. Kelemahan tersebut ada pada pengelolaan sumber daya
alam, SDM maupun sumber dana. Sumber daya alam memang sangat mendukung
pertumbuhan kelapa sawit.Namun kekurangannya perlu diimbangi agar tercapai
produksi yang optimal.Baru sebagian kecil kebun yang benar-benar dapat menggali
potensi tersebut. Kekurangan timbul karena kultur teknis yang dipakai menyimpang
dari yang dianjurkan. Misalnya karena ingin menghemat biaya, pupuk yang
dianjurkan ditukar dengan yang murah tetapi mutunya kurang baik atau dosisi
yang dianjurkan dikurangi.Diberikan hanya satu kali setahun bahkan ada yang
tidak memupuk. Pemberantasan hama kurang mendapat perhatian, penyisipan
terlambat dilakukan dan teras, tapak kuda, benteng dan sistem pencegah erosi
lainnya kurang memadai, demikian juga dengan drainase. Hal ini akan berpengaruh
langsung terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Disamping itu,
sebagian disebabkan karena kurang akurasinya pengamatan sewaktu membuat studi
kelayakan.Lahan dikatakan datar ternyata terjal atar berawa sehingga pembuatan
jalan sulit dilakukan (Setyamidjaja,
D, 1991).
Tata ruang dan teknologi yang direkomendasikan tidak sesuai
dengan keadaan di lapangan.Selain itu, perencanaan yang telah disusun tidak
dapat dilaksanakan karena berbagai sebab sehingga berpengaruh terhadap rencana
lainnya. Gangguan alam seperti kekeringan atau kebanjiran sebelumnya tidak
diperhitungkan serta gangguan hama, terutama hewan liar cukup banyak memerlukan
perhatian.
Dibidang sumber daya manusia, juga banyak memerlukan
perhatian baik sewaktu membangun proyek maupun sesudahnya (terutama di daerah
pengembangan) masalah sumber daya manusia sangat penting.Bukan saja jumlahnya
terbatas tetapi juga keterampilan yang kurang sehingga produktifitasnya rendah,
partisipasi kurang, sosial budaya setempat belum dapat menerima kultural baru,
perselisihan lahan serta kemampuan dari pemborong lokal sebagai mitra usaha
yang masih terbatas (Anonim, 2008).
2.2 Perkebunan
Kelapa Sawit
Pembangunan perkebunan membutuhkan ketersediaan dana yang
berkesinambungan. Jadwal kerja yang sudah ditetapkan harus dapat dibiayai.
Penundaan satu pos akan mengakibatkan mata rantai pekerjaan lain menjadi macet
dan akan menimbulkan biaya tinggi. Oleh karena itu, maka manajemen pembiayaan
harus mendapat perhatian.Bagi kebun yang telah berproduksi masalah pokok sangat
tergantung pada tenaga pemanen, jalan/transportasi, pabrik pengolahannya,
kondisi tanaman dan kapasitas panen.Masalah transportasi sangat bergantung pada
kondisi jalan dan iklim.
Masalah pabrik merupakan masalah penting karena
pembangunannya sering terlambat. Masalah teknis tidak banyak, tetapi masalah
pengadaan dana sering menjadi penghambat. Terlambatnya pembangunan pabrik akan
sangat merugikan pengusaha secara finansial maupun moril. Dampaknya akan sangat
luas sekali karena akan mengurangi kepercayaan masyarakat kepada pengusaha.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas dari manajer puncak dalam
pengambilan keputusan sangat penting.Keterbatasan pengalaman maupun pengetahuan
manajer dapat diatasi jika mau memanfaatkan tenaga ahli baik sebagai penasihat,
konsultan maupun sebagai second opinion (Statistik, 2009).
Lingkup manajemen perkebunan sangat luas dengan berbagai
ragam dan kondisi. Manajemen dituntut agar dapat berbuat berbagai hal seperti
berikut :
1) Mengelola sumber daya alam
sebaik-baiknya sehingga mendapatkan hasil yang optimal secara berkesinambungan
tanpa menimbulkan pencemaran.
2) Mengelola sumber daya manusia yang
jumlahnya mencapai ratusan orang, meningkatkan produktivitas, menciptakan
kondisi yang serasi, menanamkan rasa memiliki dan mampu menggiring untuk
bersama-sama mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan. Dalam hal ini
manajemen harus dapat membagi tugas masing-masing lini.
3) Mengelola sumber dana yang terbatas
sehingga semua rencana dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
4) Mampu melihat perobahan yang terjadi
baik di dalam maupun diluar yang berasal dari berbagai pihak serta harus dapat
mengantisipasi dan menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi.
5) Harus dapat menjalin kerjasama yang
sebaik-baiknya dengan pihak ketiga apakah sesama usahawan, mitra usaha, instasi
pemerintah, penyandang maupun calon pembeli.
6) Manajemen harus memilki satu sistem
administrasi yang dapat menjamin tersedianya data dan informasi yang ”up to
date” dan akurat guna mendukung pengambilan keputusan (Statistik, 2009).
2.3 Peranan Manajemen Dalam
Perkebunan
Manajemen agribisnis khususnya perkebunan, sudah ada di
Indonesia sejak berpuluh tahun yang lalu ketika perkebunan-perkebunan besar
dibuka oleh bangsa asing.Manajemen tentunya disesuaikan dengan kebutuhan serta
kondisi waktu itu dan perobahan yang timbul.Apa yang diterapkan sekarang adalah
modifikasi dari konsep terdahulu ditambah dengan teori-teori baru yang
sebelumnya tidak ada dan perangkat teknologi yang lebih canggih seperti
komputerisasi dan komunikasi.Manajemen bermanfaat bukan hanya untuk perusahaan
atau organisasi, melainkan juga untuk semua kegiatan untuk mencapai tujuan
tertentu agar berhasil dengan baik. Perilaku manajemen tidak hanya
mengatur yang telah ada, tetapi juga mampu memecahkan persoalan dan mencarikan
jalan keluarnya (Susila,
W. R., 2004).
Dalam tugas sehari-harinya, manajemen akan menghadapi sumber
daya alam yang sewaktu-waktu dapat berubah dan harus mampu menyesuaikannya.
Diperlukan pula perhatian khusus karena bekerja pada areal yang luas.Manajemen
perkebunan harus mampu menghimpun kelompok yang terdiri atas puluhan sampai
ribuan pekerja dalam berbagai tingkat keahlian.Sumber daya manusia ini tidak terlepas dari
masalah sosial dan budaya yang beragam.
Perkebunan merupakan pelaksana prinsip industrialisasi
dibidang pertanian.Adanya kemajuan teknologi yang terus menerus membuat manusia
lebih diminta berperanan setapak demi setapak berpindah dari sumber energi menjadi pemikir.Tugas
pembinaan sumber daya manusia adalah mengembangkan potensi yang ada serta
bagaimana mengurangi dan meniadakan hambatan-hambatan terhadap terealisasinya
kegiatan manajemen.Pada tingkat estate dan mill, seorang Asisten sebagai base-level management,
pada dasarnya adalah manager di divisinya. Oleh karena itu Asisten diharapkan
mampu menerapkan dasar kegiatan manajemen dalam melaksanakan tugasnya
sehari-hari untuk mencapai tujuan perusahaan(Susila, W. R., 2004).
2.4 Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu
ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh
manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan seperti :
1. Perencanaan
2. Organisasi
3. Pelaksanaan
4. Pengawasan
2.4.1 Perencanaan
(Planning)
Kegiatan seorang manajer adalah menyusun rencana. Menyusun
rencana berarti memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang
dimiliki,.Agar dapat membuat rencana secara teratur dan logis, sebelumnya harus
ada keputusan terlebih dahulu sebagai petunjuk langkah-langkah selanjutnya (Susila, W. R., 2004).
2.4.2 Pengorganisian
(Organizing)
Pengorganisasian atau organizing berarti menciptakan
suatu struktur dengan bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga
hubungan antar bagian-bagian satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka
dengan keseluruhan struktur tersebut.Pengorganisasian bertujuan membagi suatu
kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil.Selain itu,
mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang
dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut (Susila, W. R., 2004).
2.4.3 Menggerakkan
(Actuating)
Menggerakkan atau Actuating adalah suatu tindakan untuk
mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai
dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating
artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau
penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki
secara efektif.Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership) (Susila, W. R., 2004).
2.4.4 Pengawasan
(Controling)
Pengawasan merupakan tindakan seorang manajer untuk menilai
dan mengendalikan jalannya suatu kegiatan yang mengarah demi tercapainya tujuan
yang telah ditetapkan (Susila,
W. R., 2004).
2.5 Sarana Manajemen
Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan
alat-alat sarana (tools).Tools merupakan syarat suatu usaha untuk
mencapai hasil yang ditetapkan.Tools tersebut dikenal dengan 6 M, yaitu men,
money, materials, machines, method, dan markets.
2.5.1 Man (SDM)
Dalam manajemen, faktormanusia adalah yang paling menentukan.
Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk
mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya
manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya
orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.
2.5.2 Money (uang/dana)
Uangmerupakan salah satu unsur yang
tidak dapat diabaikan.Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai.Besar-kecilnya
hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh
karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai
tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan
berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji
tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil
yang akan dicapai dari suatu organisasi.
2.5.3 Materials (bahan)
Materi terdiri dari bahan setengah jadi (raw material)
dan bahan jadi.Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain
manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan
bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki
dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
2.5.4 Machines
(mesin)
Dalam kegiatan perusahaan,
mesin sangat diperlukan. Penggunaan mesinakan
membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta
menciptakan efesiensi kerja.
2.5.5 Methods
(metode)
Dalam pelaksanaan kerja
diperlukan metode-metode kerja. Suatu tata cara kerja yang baik akan
memperlancar jalannya pekerjaan. Sebuah metode dapat dinyatakan sebagai
penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai
pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan
penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode
baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai
pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam
manajemen tetap manusianya sendiri.
2.5.6 Market (pasar)
Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab
bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan
berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu,
penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil
produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan.Agar pasar
dapat dikuasai maka
kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli
(kemampuan) konsumen.
Dengan lebih sederhana, seorang Asisten estate dan mill
harus mampu melakukan berbagai kegiatan untuk menjamin seluruh sumber daya yang
dimiliki (dalam kontrolnya) dapat digunakan untuk mencapai tujuan/target secara
efektif dan efisien. Kegiatan-kegiatan ini disebut sebagai Proses Manajemen (Pahan, Iyung, 2008).
2.6
Struktur Organisasi
Bisnis perkebunan adalah bisnis global, sehingga
perilaku bisnis dan dinamika perubahan lingkungan mau tidak mau harus
menyesuaikan dengan perkembangan global.Salah satu yang sangat berpengaruh
terhadap bisnis tersebut adalah struktur organisasi.Guna terwujudnya struktur
organisasi yang solid, diperlukan manajemen strategi untuk menentukan strategi
dan arah yang digunakan perusahaan haruslah sesuai/cocok.
Pengelolaan perusahaan yang baik merupakan satu syarat penting bagi terciptanya
kinerja perusahaan secara wajar.
Manajemen perkebunan memiliki tujuan tertentu yang ditelah
ditetapkan dalam program jangka panjang maupun jangka pendek.Tujuan tersebut
ada yang jelas dapat dihitung secara fisik, namun ada yang tidak dapat dihitung
dan perlu diketahui oleh semua pihak.Tujuan tersebut harus dapat dijelaskan
secara fisik dan didistribusikan pada setiap lini, pada setiap unit kerja
bahkan sampai kepada setiap individu.Pencapaian sasaran yang dinyatakan secara
kuantitatif akan mudah dilaksanakan. Sasaran tersebut dapat dibagi berdasarkan
waktu kerja misalnya harian, mingguan, bulanan, tahunan dan lima tahunan (Pahan, Iyung, 2008).
Pada dasarnya pimpinan harus meneliti secara cermat struktur
organisasi yang sedang berjalan dan bertanya “apakah perusahaan memiliki organisasi yang
tepat untuk mendukung strategi yang dibuat?”Organisasi merupakan salah
satu factor terpenting dalam mencapai tujuan perusahaan.Oleh karena organisasi
diartikan sebagai kumpulan dari beberapa orang yang secara bersama-sama
berusaha mencapai suatu tujuan. Tujuan tersebut hanya dapat
tercapai dengan adanya pembagian kerja. Jika suatu saat strategi dirubah
maka perusahaan wajib untuk merubah atau menyesuaikan struktur organisasinya
agar cocok dengan strategi yang baru.
Dalam struktur organisasi yang utuh terdapat jenjang
organisasi yakni tingkat-tingkat satuan organisasi yang di dalamnya terdapat
pejabat, tugas serta wewenang tertentu menurut kedudukannya dari atas ke bawah
dalam fungsi tertentu. Dilihat dari jenjang organisasi dapat dibedakan
atas tiga macam, yaitu:
1. Struktur
organisasi pipih
(flat top organization), yaitu struktur organisasi yang melaksanakan
jenjang organisasi antara 2 sampai dengan 3 tingkat.
2. Struktur
organisasi datar,
yaitu struktur organisasi yang melaksanakan jenjang organisasi sampai dengan 4
tingkat.
3. Struktur
organisasi curam,
yaitu struktur organisasi yang melaksanakan jenjang organisasi sampai dengan 5
tingkat (Pahan,
Iyung, 2008).
2.7 Struktur Organisasi Divisi
Dari ketiga macam struktur organisasi tersebut di atas,
struktur organisasi divisi yang ideal atau yang berlaku pada saat ini sesuai
model struktur organisasi pipih.Demi keberhasilan penerapan struktur
organisasi, penting diperhatikan “Kesatuan Perintah”. Kesatuan perintah
adalah tiap pejabat hanya dapat diperintah dan bertanggung jawab kepada seorang
pejabat atasan tertentu.Dalam struktur organisasi divisi, Mandor I hanya dapat
diperintah oleh Asisten dan bertanggung jawab kepada Asisten. Dalam buku “Management
Analysis Concepts and Cases” :
M
Tidak ada orang dapat melayani dua kepala
M
Tidak ada anggota suatu organisasi dapat melapor kepada lebih dari seorang
atasan.
Garis-garis saluran perintah dan tanggung jawab harus dengan
jelas menunjukkan dari siapa seorang pejabat menerima perintah dan kepada siapa
dia bertanggung jawab. Sebaliknya, harus jelas pula kepada siapa dia
melapor dan dari siapa dia memperoleh laporan.
Tidak
adanya kesatuan perintah menimbulkan kebingungan dan keraguan dari bawahan dan
menimbulkan ketidakjelasan tanggungjawab. Sebab apabila ada perintah
Mandor I dan beberapa mandor, akan menimbulkan pertanyaan perintah manakah yang
harus didahulukan. Kepada siapa karyawan tersebut bertanggung jawab, kepada
atasan langsung atau pejabat atasan tadi (contoh : antara mandor perawatan dan Mandor
I), hal ini tidak jelas berakibat kacaunya organisasi (Pahan, Iyung, 2008).
2.8 Pembagian
Kerja Di Divisi
Pada struktur divisi dalam pekerjaan
lapangan, Asisten dibantu Mandor I. Mandor I membawahi mandor dan krani
dan pada lapisan terbawah adalah karyawan/pekerja. Asisten sebagai
komponen manajemen mempunyai proporsi manajerial yang dominan dibandingkan
mandor dan karyawan, namun harus memiliki sedikit proporsi keterampilan.
Asisten dituntut trampil agar dapat memberikan contoh langsung di lapangan,
misalnya teknik menyemprot.Proporsi yang kurang lebih sama antara manajerial
dan keterampilan adalah pada Mandor I, Mandor dan Krani. Dalam
sehari-hari Mandor I, Mandor dan Krani bekerja dengan menerapkan unsur
manajemen dan keterampilan dalam porsi yang berimbang. Mandor I, Mandor
dan Krani lebih banyak berhubungan langsung dengan karyawan, sehingga perlu
memperagakan teknik bekerja pada karyawan.
Hal
ini diperlukan mandor, agar prestasi kerja bisa tercapai dan tidak menyimpang
dari standar kerja. Proporsi unsur manajemen pada level divisi dapat
digambarkan pada tabel berikut.
Tabel
1. Proporsi Unsur Manajemen pada Level Devisi
Unsur
Manajemen
|
Personil
Pelaksana
|
||
Perencanaan
|
Asisten
Kebun
|
||
Pengorganisasian
|
Asisten
Kebun
|
Mandor
I
Mandor
|
|
Pelaksanaan
|
Asisten
Kebun
|
Mandor
I
|
Mandor
|
Pengawasan
|
Asisten
Kebun
|
Mandor
I
|
Mandor
|
Pembagian kerja sehari-hari dimulai setiap pagi pada
kegiatan Morning Call (ligkaran pagi) berdasarkan rencana kerja harian yang
dibuat satu hari sebelumnya. Mandor yang bertanggung jawab terhadap
karyawan mendistribusikannya sesuai dengan rencana kerja yang dibuat Asisten (Pahan, Iyung, 2008).
2.9 Strategi
Kerja
Pengertian dasar manajemen adalah usaha yang dilakukan untuk
memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai sasaran tertentu.
Dalam usaha mencapai sasaran diperlukan strategi kerja yang bisa diterapkan
disesuaikan dengan situasi dan kondisi di unit kerja. Agar berhasil dalam
menerapkan strategi kerja, pada umumnya dibutuhkan keterampilan, teknik memberi
perintah dan pemantauan hasil kerja berupa umpan balik (Anonim,
2008).
2.9.1 Keterampilan
Ada tiga keterampilan yang perlu dimiliki oleh Asisten sebagai
supervisor, agar strategi kerja dalam proses manajemen berjalan dengan efektif
yaitu:
1. Keterampilan
Teknis
Keterampilan teknis adalah pemahaman dan kecakapan melakukan
aktivitas tertentu.Keterampilan ini meliputi pengetahuan dan pemahaman konsep,
proses dan metode dalam suatu bidang tertentu. Keterampilan ini
diperlukan untuk mengenali, menganalisis dan memecahkan masalah dalam bidang
tertentu.
2. Keterampilan
Konseptual
Keterampilan konseptual adalah pemahaman dan kecakapan dalam
menilai/melihat keterkaitan antar kegiatan dan antar unit serta menilai dampak
dari keputusannya terhadap organisasi secara keseluruhan.
3. Keterampilan
Sosial
Keterampilan sosial adalah kemampuan untuk berhubungan dan
berinteraksi dengan orang lain. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan
untuk mengekspresikan diri melalui tingkah laku dan ucapan sehingga dimengerti
oleh orang lain. Juga mampu memahami tingkah laku orang lain.
Ketiga macam keterampilan di atas sesungguhnya dimiliki oleh
siapapun yang menjadi pimpinan unit dalam organisasi. Hanya saja ada perbedaan kadar keterampilan yang
dibutuhkan. Bagi seorang supervisor, keterampilan teknis dan
manusiawi lebih banyak dibutuhkan daripada keterampilan konseptual. Hal
ini disebabkan oleh kegiatan seorang supervisor yang sangat banyak terlibat
dalam hal-hal teknis dan berhubungan dengan manusia, dalam hal ini dengan
bawahannya (Anonim, 2008).
2.9.2
Pemberian
Perintah
Pemberian perintah diartikan sebagai usaha agar orang lain
mau dan dapat mengerjakan suatu tugas sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Beberapa hal yang penting diperhatikan agar pemberian perintah dapat efektif
adalah:
1. Kesiapan
penerima perintah
Karyawan
yang terlibat harus terlatih, terampil dan mampu secara fisik untuk
melaksanakan apa yang diperintahkan. Hasil yang baik baru dapat
dicapai bila pelaksana ‘mau’ mengerjakan apa yang diperintahkan. Perintah
harus dirumuskan secara jelas mengenai apa dan bilamana tugas tersebut harus
dilaksanakan.
2. Fakta di
belakang suatu perintah
Dalam
memberikan suatu perintah, tunjukkan atau perlihatkan fakta-fakta atau
kondisi-kondisi yang menyebabkan perintah tersebut perlu dilaksanakan.
3. Nyatakan
hasil yang diharapkan
Sebaiknya
besaran tentang hasil yang diharapkan dapat ditentukan secara kuantitatif,
misalnya dalam satuan waktu, jumlah dan lain-lain.
4. Tindak
lanjut (Follow up)
Memberikan
perintah saja pada hakikatnya baru menyelesaikan separuh pekerjaan.
Sesungguhnya yang lebih penting adalah separuh pekerjaan yang lain, yaitu
mengikuti perkembangan pemberian perintah selanjutnya yaitu apakah perintah
dilaksanakan sesuai dengan apa yang diharapkan.Dalam melaksanakan strategi
kerja sering sasaran tidak tercapai karena terjadinya kesalahan dalam
pemberian perintah. Beberapa hal yang sering menghambat efektivitas
pelaksanaan tugas antara lain adalah:
1. Bicara tidak tegas atau menggunakan
kata-kata yang tidak sepenuhnya mendukung arti perintah tersebut.
2. Susunan perintah tidak teratur dan
sembarangan. Sebaiknya diusahakan agar instruksi tersebut disusun dalam
urutan yang logis dan tidak membingungkan.
3. Terlalu cepat menganggap pelaksana
sudah mengerti apa yang diharapkan dari dirinya, padahal pada kenyataannya
mungkin pelaksana belum memahami tugas tersebut sepenuhnya.
2.9.3
Umpan Balik
Sebagai seorang supervisor, Asisten dalam bekerja harus
menjalankan fungsi pengendalian. Dengan melakukan pengendalian, maka
kemungkinan terjadinya penyimpangan di lapangan dapat diperkecil. Jika
penyimpangan tidak dapat dihindarkan lagi, maka resikonya dapat
diperkecil. Salah satu alat pengendalian terhadap tingkah laku bawahan
adalah memberikan umpan balik.
Dalam mengambil tindakan terhadap bawahan atau karyawan,
seorang Asisten harus memeriksa terlebih dulu apakah penyimpangan terjadi
karena kekurangan pada karyawan atau karena hal-hal di luar kendali karyawan
tersebut. Asisten haruslah terus mendorong bawahan agar prestasinya
terpelihara atau ditingkatkan.Setiap penilaian perlu mempunyai dasar terhadap
mana prestasi kerja dapat diukur/dibandingkan. Sasaran/standar perlu
dirumuskan dengan jelas sehingga Asisten mempunyai dasar untuk menilai secara
objektif. Standar hasil kerja merupakan suatu pernyataan mengenai apa (hasil)
yang diharapkan dari karyawan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
seperti yang tercantum dalam uraian pekerjaan (Pahan, Iyung, 2008).
Dengan demikian standar hasil kerja yang diharapkan di
lapangan merupakan tolok ukur bagi Asisten dalam menilai hasil kerja
bawahan/karyawan, sekaligus merupakan sumber informasi yang sangat membantu
bagi karyawan untuk mengetahui taraf perkembangan dirinya pada setiap
saat.Umpan balik merupakan informasi yang diterima pelaksana mengenai prestasi
kerjanya. Orang akan lebih mudah meningkatkan atau memelihara prestasinya
bila mendapat umpan balik secara teratur. Sebagai konsekuensinya, supervisor
harus memberikan umpan balik yang segera dan tepat mengenai prestasi
bawahannya. Umpan balik sifatnya informal, sehari-hari diberikan untuk
tugas tertentu serta mempunyai tujuan akhir untuk pengembangan pribadi.Dalam
memberikan umpan balik, Asisten memerlukan informasi baik yang berasal dari
pihak ketiga maupun dari karyawan sendiri. Dalam mencari informasi ada
tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu bertanya,
mendengar dan menjawab dengan cara, sikap dan kata-kata yang
baik.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan umpan balik:
1. Tujuan
` Memberikan umpan
balik harus diyakini benar-benar untuk kebaikan bawahan dan bukan untuk
menghilangkan kejengkelan.
2. Umpan balik positif dan negatif
Selain untuk memberitahukan kekurangan bawahan, umpan balik
dapat digunakan untuk hal-hal yang positif (kekuatan atau kelebihannya).
3. Dapat diperbaiki
Untuk umpan balik yang negatif, harus diketahui terlebih
dahulu apakah kekurangan tersebut dapat diperbaiki atau tidak. Bila tidak
dapat diperbaiki, umpan balik jangan diberikan.
4. Siap menerima
Perlu dipikirkan pemberian umpan
balik tepat dengan mempertimbangkan keadaan emosional bawahan (tenang, gelisah,
tergesa-gesa, marah dsb).
5. Hubungan
Umpan balik akan lebih efektif bila pemberi dan penerima
sudah mengenal cukup baik.
6.
Alternatif
Ada kemungkinan bila seseorang menerima umpan balik yang
negatif, ia akan menanyakan tindakan perbaikannya kepada pemberi umpan
balik. Dalam hal ini sebaiknya pemberi umpan balik sudah siap dengan
beberapa alternatif yang mungkin dapat digunakan.
7. Non evaluatif
Pada umumnya tidak ada orang yang senang dinilai
kekurangannya, maka umpan balik sebaiknya diberikan dalam bentuk yang
non-evaluatif. Bila tidak mungkin dapat juga memberikan terlebih dahulu
umpan balik yang positif. Biasanya orang akan lebih siapmenerima
umpan balik yang negatif setelah diberitahu mengenai hal-hal yang positif
mengenai dirinya.
8. Satu per satu
Janganlah memberikan umpan balik terlalu banyak pada suatu
saat karena hal ini hanya akan membingungkan dan mungkin mematahkan semangat
seseorang.
9. Kesempatan untuk berdiskusi
Memberikan umpan balik yang positif maupun yang negatif,
biasanya penerima menginginkan penjelasan lebih banyak. Berilah
kesempatan(Susila, W. R., 2004).
2.10 Sasaran Pengembangan
2.10.1 Pengembangan
Organisasi
Berbagai langkah untuk meningkatkan
efektivitas organisasi yang independen.adalah lebih difokuskan pada organisasi
yang lebih ramping, dinamis dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan
eksternal, serta mampu mendukung pengambilan kebijakan yang cepat, tepat dan
akurat.
2.10.2 Pengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM)
Perkebunan-perkebunan sekarang telah dan terus mempersiapkan
SDM yang kompeten yang tidak saja memiliki kemampuan keilmuan dan ketrampilan
yang handal, tetapi juga integritas dan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam
melaksanakan tugas.Tentu saja hal tersebut disertai dengan penyempurnaan sistem
manajemen SDM yang ada agar lebih mendukung pelaksanaan tugas (Pahan, Iyung, 2008).
Langkah-langkah peningkatan kualitas sumber daya manusia
telah dirumuskan dengan menyusun strategi pengembangan sumber daya manusia yang
ditempuh dengan menyempurnakan sistem penerimaan, promosi, mutasi, dan
pendidikan serta pelatihan. Di samping itu, mengembangkan nilai-nilai yang
sesuai dengan pencapaian tugas visi dan misi yaitu melalui pengembangan budaya
kerja yang sesuai dengan tuntutan Undang-undang No. 23/1999 dan dapat
diimplementasikan oleh seluruh pegawai serta dapat meningkatkan kontribusi
pencapaian kinerja (Pahan,
Iyung, 2008).
III.
METODE
PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Pelaksanaan praktikum Manajemen
Perkebunan ini dilaksanakan pada Hari Selasa, Tanggal 22November 2016 mulai dari pukul 09.00 – Selesai di PT. KEMILAU INDAH NUSANTARA, Kebun
Sungai Bengalon Kecamatan Bengalon Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan
dalam pelaksanaan praktikum ini diantaranya : Alat tulis dan Kamera.
3.3 Cara Kerja
Kegiatan
praktikum Manajemen Perkebunan ini dibagi kedalam III bagian yaitu : I.
Manajemen Pabrik II. Manajemen Staff dan III. Manajemen Afdeling.
Pada Manajemen
Staff kegiatan dimulai dari perkenalan antara mahasiswa dengan karyawan
PT.Kemilau Indah Nusantara yang diwakili oleh Asisten Kebun selanjutnya penyampaian materi yang
dibagi dalam 5 materi
diantaranya :
1
Agribisnis Kelapa Sawit
2
Aspek Manajemen Perkebnunan Kelapa
Sawit
3
Perencanaan Perkebunan Kelapa Sawit
4
Manajemen Operasional
5
Keuangan dan Pembiayaan
IV.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1
Agribisnis Kelapa Sawit PT. KIN
4.1.1 Perkebunan
Kelapa Sawit PT. KIN
Perkebunan
kelapa sawit milik PT. Kemilau Indah Nusantara ini memiliki luas 24.000 Ha
dimana pada masa pendirian perkebunan tersebut memiliki dukungan yang sangat
baik dari masyarakat Kutai Timur dan pemerintah setempat. PT. KIN sendiri 100 % menggunakan jenis bibit Topas
dimana di Indonesia itu sendiri memiliki 3 jenis bibit yang diakui diantaranya
: Bibit Topas, Bibit Marihat dan Bibit Socfin.
Hingga kini
laporan unit kebun periode Oktober 2015 perkebunan sawit milik PT. KIN itu
sendiri masih memiliki nilai jual yang sangat baik dipasaran, sehingga sampai
saat ini masa-masa sulit belum ditemukan oleh perusahan perkebunan milik PT.
KIN ini.
Bisnis kelapa
sawit sangat menjanjikan dimana hingga November 2015 harga sawit mulai dari Rp.
1.200,00 – Rp. 1.700,00/Kg tergantung umur tanaman dan kualitas buah itu
sendiri.
4.1.2 Bisnis Kelapa
Sawit
Bisnis kelapa
sawit khususnya di Kutai Timur merupakan salah satu keunggulan dan pendapatan
utama bagi Kutai Timur dan Kalimantan Timur. Terhitung hingga saat ini,
Kalimantan timur merupakan pemasok minyak terbesar sekalimantan, sedangkan
seindonesia kalimantan timur merupakan pemasok terbesar ke 6 di indonesia,
selain Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Barat dan Palembang.
PT. KIN sendiri
hingga saat ini sudah mengolah semua bagian-bagian dari hasil pengolahan minyak
dari kelapa sawit itu sendiri, seperti biji hingga cangkang kelapa sawit
tersebut sehingga tidak ada bagian buah yang terbuang. Hal ini dapat dinyatakan
bahwa aspek bisnis sawit di Kutai Timur saat ini sangat maju dengan pesat dan
sangat baik.
4.2 Aspek
Manajemen Perkebunan Kelapa Sawit PT. KIN
Manajemen
perkebunan sangat luas dengan berbagai ragam dan kondisi seperti yang telah
kita ketahui. Manajemen di PT.KIN itu sendiri dituntut agar dapat berbuat hal
yang baik seperti :
1
Mengelola sumber daya alam tersebut
sebaik-baiknya sehingga mendapatkan hasil yang optimal.
2
Mengelola sumber daya manusia yang
jumlahnya banyak dan meningkatkan produktifitas.
3
Mengelola sumber dana yang terbatas
sehingga semua rencana dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
4
Mampu melihat perubahan yang terjadi
baik di dalam maupun di luar yang berasal dari berbagai pihak.
5
Mampu membuat “Forecasting” baik jangka
panjang maupun jangka pendek berdasarkan kebutuhan dari masing-masing proses.
6
Manajemen harus memiliki suatu sistem
administrasi yang dapat menjamin tersedianya data dan informasi yang “Up To
Date”.
4.3
Aspek
Perencanaan PT.KIN
Perencanaan yang dilakukan dalam
memajukan pendapatan perusahaan diantaranya yaitu dengan memperhatikan semua
kebutuhan yang dapat mendukung perkembangan perusahaan seperti :
1.
Kebijaksanaan dari atasan yang perlu
dipedomani, hasil pengawasan, kebutuhan kedepan, temuan baru maupun saran dari
dalam atau luar.
2.
Rencana laba dan keuntungan yang
diharapkan setiap periode (min. 26 %)
3.
Rencana operasional yng perlu segera
dilaksanakan
4.
Standar kerja dan biaya yang akan
dipakai
5.
Anggaran biaya yang disediakan
6.
Program dan jadwal yang diperlukan
7.
Sistem pengawasan dan pelaporan yang optimal
4.4 Manajemen
Operasional PT.KIN
4.4.1 Konsep Dasar
Pada dasarnya
konsep manajemen operasi adalah strategi yang akan diterapkan. Kegiatan
tersebut akan terangkai menjadi kegiatan dalam pengelolaan sehari-hari misalnya
:
1. Pemilihan jenis
produk yang akan dihasilkan
2. Tahapan
bagaimana yang akan ditempuh dan bagaimana dengan batasan waktu yang tersedia.
3. Metode atau
sistem pengelolaan yang akan dilakukan, misalnya apakah manajemen usaha kebun
akan diserahkan pengelolaannya pada pihak lain atau dikelola sendiri.
4. Kegiatan
operasional adalah kegiatan intern misalnya, pemasaran, penelitian atau
lingkungan lainnya.
5. Penetapan
sasaran atau out put yang dihasilkan
6. Kondisi harus
optimal sehingga target dapat dicapai dengan pemakaian sumber daya yang di
miliki.
4.4.2 Tahapan Jenis
Pekerjaan dan Jadwal Kerja
Semua usaha
harus di mulai dari awal secara bertahap dan berencana sehingga tidak ada waktu
dan biaya yang terbuang percuma. Dalam usaha di bidang perkebunan kelapa sawit,
tahapan ini sangat penting. Jika akan memulai usaha, diperlukan kegiatan awal
atau operasi misalnya :
1. Studi Kelayakan
(Pembibitan dan pembukaan lahan serta penanaman)
2. Pemeliharaan
Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 1,5 – 3 tahun dengan label 1.06 s/d 1.10
3. Pemeliharaan
Tanaman Menghasilkan (TM) 3 – 26 tahun dengan label 1.11 dan 1.12
4. Panen (
Penyesuaian rotasi panen 7 hari/puncak panen) dengan label 1.13 s/d 1.1.16
5. Pabrik dan
pengelolaan (Pembangunan pabrik membutuhkan waktu 18-24 bulan lamanya)
.
4.5 Keuangan dan Pembiayan
Pada perkebunan
kelapa sawit PT.KIN ini sama dengan perusahaan-perusahaan sawit lainnya yatiu
memerlukan dana yang kontinu bagi kelancaran pembangunan investasi dan komponen
investasi yang perlu dibiayai diantaranya :
1. Tanaman - Termasuk
biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan bibit, pembukaan lahan, persiapan tanam,
pemeliharan selama belum di konversi menjadi tanaman menghasilkan dan sarana
jalan.
2. Non Tanaman
–Termasuk pabrik, bangunan rumah, bangunan perusahaan alat/perabot, jembatan/gorong-gorong,
alat angkut, alat berat, instalasi air dan listrik.
3. Lain-lain –
Termasuk biaya praoperasi dan biaya kontingensi.
Dari hasil penyampaian materi
dibutuhkan trilliunan rupiah untuk pembangunan perusahaan sawit PT. Kemilau
Indah Nusantara (KIN) ini, sehingga dengan demikian perkembangan dengan dana
yang optimal diharapkan dapat meningkatkan perkembangan perusahaan dengan baik
dan optimal (Mustafa PT.KIN 2015).
4.6 Upah
panen
Adapun
biaya yang dikeluarkan untuk biaya panen adalah sebagai berikut :
1. Upah basis = Rp 91.060
2. Premi = Rp 8.000
3. Brondolan/kg = Rp 75
4. Lebih borong = Rp 906
V.
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil
pelaksanaan praktikum dapat disimpulkan bahwa :
1. Manajemen
perkebunan kelapa sawit membutuhkan aspek-aspek yang tepat untuk memajukan dan
meningkatkan perkembangan perusahaan.
2. Bisnis kelapa
sawit di Kalimantan Timur khususnya di Kutai Timur berjalan dengan baik dan
menjadi salah satu pemasok minyak terbesar di Kalimantan Timur.
3. Dalam
perkebunan sawit sangat membutuhkan dana yang sangat optimal dan besar dalam
pembangunannya sehingga dalam perkebunan kelapa sawit tersebut dibutuhkan
manajemen perkebunan yang baik dan tepat sasaran.
4. Hingga saat ini
PT.KIN itu sendiri masih tetap menghasilkan minyak yang baik dan menjadi
pemasok minyak yang besar di Kalimantan Timur.
5.2 Saran
Diharapkan
dengan adanya praktikum Manajemen Perkebunan ini, dapat meningkatkan
pengetahuan semua mahasiswa, sehingga dapat menerapkannya di kalangan
masyarakat khususnya di Kutai Timur, Kalimantan Timur.