I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati yang terdiri atas flora dan fauna. Salah satu flora jenis pohon yang banyak ditemui di Indonesia adalah Aren (Arenga pinnata). Aren bisa tumbuh subur di tengah pepohonan lain dan semak-semak, di dataran, lereng bukit, lembah, dan gunung hingga ketinggian 1.400 mdpl. Akar tanaman yang bisa mencapai kedalaman 6–8 meter ini dapat menahan erosi, serta sangat efektif menarik dan menahan air. Aren termasuk jenis palma yang multifungsi, karena seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan.
Keuntungan lain dalam pengembangan jenis ini, tanaman yang notabene merajai tanah Indonesia ini tidak membutuhkan pemupukan dan tidak terserang hama ataupun penyakit yang mengharuskan penggunaan pestisida sehingga aman bagi lingkungan. Tidak seperti singkong dan tebu yang dipanen 3-4 bulan sekali, aren dapat dipanen sepanjang tahun. Menurut Kepala Bagian Jasa Iptek Puslit kimia LIPI, Dr. Hery Haeruddin, dalam satu hektar tanah bisa ditanami 75-100 pohon. Satu pohon aren mampu menghasilkan hingga 20 liter nira per hari.
Tanaman aren memiliki segudang kelebihan yang tak tertandingi, dan ke depan dapat dijadikan sebagai salah satu sumber penghasil bioethanol. Aren memproduksi 36.000 liter ethanol per hektar per tahun. Untuk menghasilkansatu liter bioetanol diperlukansekitar 15 liter nira. Masa produktif tanaman aren 6-8 tahun (Suhendi, 2007).
Sejak tahun 2007, Presiden mencanangkan program nasional penanaman aren di wilayah Indonesia. Anggaran sebesar kurang lebih 60 miliar disiapkan untuk mensukseskan program tersebut. Sebuah angin segar yang menjadi pemacu semangat para petani aren menjadi besar karena permintaan aren tak hanya untuk memenuhi industri gula saja, namun juga untuk industri bioetanol yang saat ini sangat marak. Diperkirakan luas lahan potensial yang bisa digarap untuk lahan aren sekitar 65.000 hektar, tersebar di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur (Raharjo, 1999).
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktikum ini ialah:
1. Untuk mengetahui teknik budidaya dari tanaman aren.
2. Untuk mengetahui morfologi tanaman aren
3. Untuk mengetahui analisa usahatani tanaman aren
1.3 Manfaat Praktikum
Manfaat dilakukannya praktikum ini ialah:
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui teknik budidaya dari tanaman aren
2. Agar mahaiswa dapat mengetahui morfologi tanaman aren
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui analisa usahatani tanaman aren
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Daerah Asal Dan Penyebaran Aren
2.1.1 Daerah Asal tanaman Aren
Dahulu tanaman aren dikenal dengan nama botani Arenga saccharifera. Tetapi sekarang lebih banyak dipustakakan dengan nama Arenga pinnata Merr. Tanaman aren bisa dijumpai dari pantai barat India sampai ke sebelah selatan Cina dan juga kepulauan Guam. Habitat aren juga banyak terdapat di Philipina, Malaysia, dataran Assam di India, Laos, Kamboja, Vietnam, Birma (Myanmar), Srilanka dan Thailand (Lutony, 1993). Akan tetapi konon, tanaman yang termasuk dalam keluarga Palma atau Aracaceae ini berasal dari Indonesia (Suhendi, 2007).
Aren (Arenga pinnata Merr.) adalah salah satu species yang termasuk dalam famili Aracaceae. Banyak nama daerah (Vernacular names) yang diberikan untuk aren di Indonesia, hal ini karena tingkat penyebarannya sangat luas. Nama-nama daerah tanaman aren di Indonesia (Lutony, 1993) antara lain: bak juk (Aceh), paula (Karo), bagot (Toba), bargot (Mandailing), anau, biluluak (Minangkabau), kawung, taren (Sunda), aren, lirang (Jawa, Madura), jaka, hano (Bali), pola (Sumbawa), nao (Bima), kolotu (Sumba), moke (Flores), seho (Manado), saguer (Minahasa), segeru (Maluku), ngkonau (Kaili). Di daerah Bugis aren dikenal dengan nama indruk dan di Tana Toraja disebut induk. Sedangkan dalam bahasa asing (Lutony, 1993; Ramadani et al. 2008) dikenal dengan nama arenpalm, sagarpalm, gomotipalm (Inggris), palmier a sucre, areng (Perancis), suikerpalm (Belanda) dan zucerpalme (Jerman) (Raharjo, 1999).
2.1.2 Penyebaran Pohon Aren
Pohon aren ialah pohon nan mudah tumbuh. Pohon aren mempunyai asal-usul dari daerah Asia tropis dan secara alami menyebar mulai wilayah India Timur di bagian sebelah barat sampai Malaysia, Indonesia, dan Filipina di bagian sebelah timur. Di Indonesia sendiri, pohon aren ditanam dan tumbuh liar dengan ketinggian mencapai 1.400 m dpl dan sebagian besar tumbuh di tebing sungai atau di lereng-lereng. Walaupun getahnya sangat gatal, buah enau nan telah masak dapat dikatakan disukai hewan. Salah satu hewan nan menyukai buah dari pohon aren ini ialah musang luwak dan sekaligus merupaan hewan pemencar biji enau. Pada zaman dahulu, orang Tionghoa di daerah Bangka memasang jebakan di bawah pohon aren nan sedang berbuah. Untuk menyergap babi hutan pemakan buah enau (Suhendi, 2007).
2.2 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Aren
2.2.1 Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari tanaman aren adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Arecidae
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae
Genus : Arenga
Spesies : Arenga pinnata Mer (evi susilawati, 2011)
2.2.2 Morfologi tanaman
1. Batang
Batang pohon aren mengayu di sebelah luar dan agak lunak berserabut di bagian dalam atau empulurnya. Kayunya yang keras ini bisa dipergunakan sebagai papan, kasau atau dibuat menjadi tongkat, bagi para petani biasanya juga dibuat untuk gagang cangkul.Batang yang dibelah memanjang dan dibuang empulurnya bisa juga digunakan sebagai talang atau saluran air (Suhendi, 2007).
2. Empulur/gumbarnya
Bagian dalmnya dapat ditumbuk untuk diolah agar dapat menghasilkan sagu, meski kualitasnya masih kalah oleh sagu rumbia.Dari empulur/gumburnya dapat diambil sari patinya untuk dibuat makanan terutama sebagai bahan bihun (mie putih).
3. Daun
Sebagaimana nipah dan rumbia, daun pohon aren juga biasa digunakan sebagai bahan atap rumah rakyat. Pucuk daunnya yang masih kuncup (janur) juga dipergunakan sebagai daun rokok, yang dikenal pasar sebagai daun kawung. Lembar-lembar daunnya di Jawa Barat biasa digunakan sebagai pembungkus barang dagangan, misalnya gula aren atau buah durian. Lembar-lembar daun ini pun kerap dipintal menjadi tali, sementara dari lidinya dihasilkan barang anyaman sederhana dan sapu lidi.
4. Ijuk
Seperti halnya daun, ijuk dari pohon aren pun dipintal menjadi tali. Meski agak kaku, tali ijuk ini cukup kuat, awet dan tahan digunakan di air laut. Ijuk dapat pula digunakan sebagai bahan atap rumah, pembuat sikat dan sapu ijuk. Dari pelepah dan tangkai daunnya, setelah diolah, dihasilkan serat yang kuat dan tahan lama untuk dijadikan benang, tali pancing dan senar gitar Batak.
5. Buah
Buah pohon aren atau lebih terkenalnya sering disebut kolang-kaling, Meskipun getahnya amat gatal, Kolang-kaling disukai sebagai campuran es, manisan atau dimasak sebagai kolak. Teristimewa sebagai hidangan berbuka puasa di bulan Ramadhan. Mengenai kolang-kaling
6. Bungga
Dari bungga pohon aren inilah yang dapat menghasilkan nira yang kemudian setelah diolah dapat menghasilkan gula aren, mungkin sebagian dari anda pernah membeli gula aren ataupun pernah mengkonsumsinya, karena gula aren bisa digunakan untuk pemanis masakan.
2.3 Syarat Tumbuh
Tanaman aren dapat tumbuh mulai dari tanah liat, berlumpur, sampai dengan berpasir ; dengan kesamaan tanah rendah. Tempat tumbuh yang paling baik 500 – 800 m dpl, curah hujan lebih dari 1.200 mm. Di Indonesia tanaman aren banyak terdapat dan tersebar hamper, di seluruh kawasan Indonesia.
Tanaman aren sesungguhnya tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus (Hatta-Sunanto, 1982) sehingga dapat tumbuh pada tanah-tanah liat, berlumur dan berpasir, tetapi aren tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya tinggi (pH tanah terlalu asam). Aren dapat tumbuh pada ketinggian 9 – 1.400 meter di atas permukaan laut. Namun yang paling baik pertumbuhannya pada ketinggian 500 – 800 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan lebih dari 1.200 mm setahun atau pada iklim sedang dan basah.
2.4 Teknik Budidaya Tanaman Aren
2.4.1 Pembibitan
1. Pembibitan dari biji aren tua yang dipetik langsung dari pohon
Mula-mula biji dipendam di Lokasi/Tempat Tumbuh Aren: Tanaman Aren menyebar luas di banyak daerah dengan wilayah penyebaran antara garis lintang 200 LU – 110 LS antara lain Indonesia. Di Indonesia aren banyak tumbuh di wilayah perbukitan, pegunungan, dan lembah .Tanaman ini tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus dan tidak memerlukan pemeliharaan yang intensif, dapat tumbuhpada tanah liat, berlumpur dan berpasir, padaketinggian antara 9 – 2000 m dpl dengancurah hujan lebihdari 1.200 mm setahun (DEPTAN, 2009). Penyebaran tanaman Aren secara alami dibantu oleh musang. Perbanyakan tanaman dilakukan secara generatif, yaitu melalui biji. Biji yang dipilih untuk pembibitan harus berkualitas baik dan sudah matang sempurna. Biji untuk pembibitan bisa berasal aren yang keluar dari perut musang, biji tua hasil pemetikan langsung dari pohon, dan biji aren tua dari pohon yang ditebang (Suhendi, 2007).
2. Pembibitan dari biji yang keluar dari perut musang
Biji direndam dalam air dingin selama ± 5 menit, kemudian dibersihkan dan dijemur sekitar 2 hari. Setelah kering, biji disemaikan dalan polibag yang telah diisi dengan tanah subur dan gembur (jika perlu bisa dicampur dengan sedikit pupuk organik) dengan kedalaman sekitar 1 cm. Biasanya dalam waktu 12-13 hari biji aren mulai berkecambah, yang ditandai dengan munculnya hipokotil. Selanjutnya setelah 30 hari disemaikan, biji tersebut muncul ke permukaan tanah polybag/wadah laindalan tumpukan sampah yang masih basah dan sudah agak membusuk , selama lebih kurang 15 hari. Tujuannya, selain untuk memudahkan pengupasan kulit buah juga untuk merangsang proses fisiologi perkecambahan biji. Setelah itu biji dicuci dengan air dingin dan dikeringkan di bawah panas matahari sekitar 2 hari. Selanjutnya biji disemaikan dalam polibag seperti untuk penyemaian dari biji yang keluar dari perut musang. Tempat persemaian sebaiknya dinaungi, bahkan beberapa petani biasa menutupi bedengan, setelah berkecambah tutup bedengan baru dibuka. Kecambah di dalam bedengan tetap dinaungi dan disiram secukupnya untuk menjaga kelembaban. Biasanya setelah 34 hari biji akan mulai berkecambah dan sekitar 2-3 minggu kemudian biji akan muncul kepermukaan tanah polibag. Prosentase hidup kecambah dengan cara ini sekitar 45%.
3. Pembibitan dari biji yang ditebang
Cara ini merupakan modifikasi dari model pembibitan biji aren yang dipetik langsung dari pohon. Urutannya dimulai dengan memetik buah, pemendaman dalam sampah, pengulitan, pembersihan, dan penjemuran. Sebelum disemaikan, bagian punggung biji diiris (dekat bakal tunas) selebar kira-kira 5 mm. Selanjutnya biji direndam dalam air dingin sekitar 24 jam untuk mempercepat proses imbibisi. Setelah itu biji disemaikan dalam polibag dan biasanya sesudah 16-17 hari mulai berkecambah, dan 2-3 minggu kemudian akan muncul ke permukaan. Prosentase hidup kecambahdengancaraini sekitar 75% (Suhendi, 2007).
4. Pembibitan aren juga dapat dilakukan dengan menggunakan biji aren tua yang berasal dari buah yang berjatuhan.
Caranya dapat dilakukan dengan sistem pembibitan dari biji yang buahnya dipetik langsung dari pohon yang ditebang. Tahapan perbanyakan tanaman secara generatif adalah sebagai berikut :
1) Pengumpulan Buah
Buah yang digunakan sebagai sumber benih harus matang, sehat yang ditandai dengankulit buah yang berwarna kuning kecoklatan, tidak terserang hama dan penyakit dengan diameter buah ± 4 cm. Sebaiknya buah yang diambil adalah yang terletak di bagian luar rakila. Buah aren ini dapat disimpan selama 2 minggu pada karung plastik atau dus untuk memudahkanpemisahan biji (benih) dari kulit.
2) Pengambilan Biji dari Buah
Pengambilan biji dari dalam buah aren harus menggunakansarung tangan karena buah aren mengandung asam oksalat yang akan menimbulkan rasa gatal apabila kena kulit. Cara lain, yaitu dengan memeram buah-buah aren yang telah dikumpulkan sampai kulit buah menjadi busuk sehingga biji telah terpisah dari daging buah.
3) Perkecambahan
Benih disemaikan dalam tempat pesemaian misalnya bedeng tabur atau kotak plastik, dengan media campuran pasir + serbuk gergaji (2:1). Cara untuk perkecambahan yaitu biji digosok dengan kertas pasir bagian punggungnya, tempat keluar apokol, selebar kira-kira 3 mm kemudian biji direndam dalam air agar air meresap ke dalam endosperm sampai jenuh, lalu disemaikan. Benih disiram setiap hari untuk mempertahankankelembabanyang tinggi sekitar 80%.
4) Memindahkan Kecambah pada Polybag (Overspin)
Kecambah aren yaitu setelah terbentuk apokol yang telah mencapai panjang 3 – 5 cm dipindahkan ke tempat pembibitan atau dalam polybag yang berdiameter 25 cm. Media yang digunakan untuk pembibitan dalam kantong plastik (polybag) adalah tanah-tanah lapisan atas yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan1:2, dan diisi ¾ bagian kantong polybag.
5) Pengamatan Perkembangan Benih dan Bibit
Benih sehat yang ditanam akan mulai berkecambah pada kisaran 12 s.d. 32 hari tergantung asal perolehan biji seperti yang telahdijelaskan sebelumnya. Secara umum, mulai benih berkecambah s.d. overspin di persemaian adalah selama ± 3 bulan.
6) Perawatan Bibit
Berupa penyiraman dan pemupukan serta mencegah dari serangan persemaian hama dan penyakit. Serangan hama bibit aren di persemaian yang paling umum adalah tikus dan musang yang memakan biji/lembaga yang masih menempel di bibit.
Ciri-Ciri Bibit Siap Tanam Berumur 11-12 bulan Ketinggian rata rata 40-50 cm Perkembangan pertumbuhan batang dan daunnya proporsional Akar sudah menembus keluar dari polybag, batangnya cukup kokoh dan daunnya membuka lebar dengan susunan daun yang merekah(tidak menguncup). Jumlah daun cukup banyak (sekitar 6-10 lembar), warna daun hijau segar dengan permukaan yang mengkilat (Suhendi, 2007).
2.4.2 Penanaman
(Raharjo, 1999), Penanaman aren dapat dilakukan secara monokultur maupun tumpangsari. Untuk penanaman monokultur, bibit yang baik ditanam pada lahan yang sesuai dengan Tanaman Aren berumur 6 bulan di lapangan pada urutan sebagai berikut
1. Pemasangan ajir terlebih dahulu pada lahan yang telah disiapkan dengan jarak 5 x5 m atau 9 x9 m. Pembuatan lubang tanam ukuran 30 x 30 x 30 cm, untuk mempercepat pertumbuhan pada lubang tanaman diberi tanah yang telah dicampur dengan pupuk kandang, urea, TSP.
2. Lubang tanam yang telah diberi pupuk didiamkan selama3-5 hari. Mulai penanaman, dengan cara membuka polybag terlebih dahulu.
3. Bibit dimasukkan pada lubang tanam dan sisa lubang tanam ditimbun dengan tanah sambil ditekan dengan tangan
4. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan tanaman berupa penyiangan gulma sekitar tanaman, penanggulangan hama dan penyakit, dsb.Hama yang menyerang tanaman muda aren di lapangan adalah tikus, musang, dan tupai. Bibit yang baru ditanam sebaiknya diberi naungan atau peneduh.
2.4.3 Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman tidak banyak hal yang harus dilakukan hanya penyiangan/pembebasan dari ganguan gulma saat tanam masih muda, pemupukan, dan pemberantasan hama/penyakit. Hama tanaman aren hampir sama dengan hama kelapa yaitu kumbang sagu, belalang, lebah, kelelawar, serta musang. Pengendalian dilakukan dengan cara menebang atau secara kimiawi dengan penyemprotan heptachlor 10 gram, diazinon 10 gram dan DHC (Suhendi, 2007).
2.4.4. Panen
1. Jenis Hasil Panen
Seperti telah diuraikan di muka, hamper semua bagian dari pohon aren dapat dimanfaatkan atau menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomi.
Jenis produk yang dihasilkan dari pohon aren yaitu sebagai berikut : Ijuk sebagai bahan baku pembuatan peralatan keperluan rumah tangga. Nira sebagai bahan baku gula merah, tuak, dan cuka. Kolang-kaling yang dihasilkan dari buah pohon aren. Tepung aren sebagai bahan baku pembuatan sabun, mie, dawet (cendol). Batang pohon sebagai bahan bangunan dan peralatan rumah tangga (Raharjo, 1999).
2. Pemungutan Hasil
1) Ijuk
Ijuk dihasilkan dari pohon aren yang telah berumur lebih dari 5 tahun sampai dengan tongkol-tongkol bunganya keluar. Pohon yang masih muda produksi ijuknya kecil. Demikian pula, pohon yang mulai berbunga kualitas dan hasil ijuknya tidak baik. Pemungutan ijuk dapat dilakukan dengan memotong pangkal pelepah-pelapah daun, kemudian ijuk yang bentuknya berupa lempengan anyaman ijuk itu lepas dengan menggunakan parang dari tempat ijuk itu menempel. Lempengan lempengan anyaman ijuk yang baru dilepas dari pohon aren, masih mengandung lidi-lidi ijuk. Lidi-lidi ijuk dapat dipisahkan dari serat-serat ijuk dengan menggunakan tangan. Untuk membersihkan serat ijuk dari berbagai kotoran dan ukuran serat ijuk yang besar, digunakan sisir kawat. Ijuk yang sudah dibersihkan dapat dipergunakan untuk membuat tambang ijuk, sapu ijuk, atap ijuk dll.
2) Nira
Nira aren dihasilkan dari penyadapan tongkol (tandan) bunga, baik bunga jantan maupun bunga betina. Akan tetapi biasanya, tandan bunga jantan yang dapat menghasilkan nira dengan kualitas baik dan jumlah yang banyak. Oleh karena itu, biasanya penyadapan nira hanya dilakukan pada tandan bunga jantan.
Sebelum penyadapan dimulai, dilakukan persiapan penyadapan yaitu :
1) Memilih bunga jantan yang siap disadap, yaitu bunga jantan yang tepung sarinya sudah banyak yang jatuh di tanah. Hal ini dapat dilihat jika disebelah batang pohon aren, permukaan tanah tampak berwarna kuning tertutup oleh tepungsari yang jatuh.
2) Pembersihan tongkol (tandan) bunga dan memukul-mukul serta mengayun-ayunkannya agar dapat memperlancar keluarnya nira. Pemukulan dan pengayunan dilakukan berulang-ulang selama tiga minggu dengan selang dua hari pada pagi dan sore dengan jumlah pukulan kurang lebih 250 kali. Untuk mengetahui, apakah bunga jantan yang sudah dipukul-pukul dan diayun-ayun tersebut sudah atau belum menghasilkan nira, dilakukan dengan cara menorah (dilukai) tongkol (tandan) bunga tersebut. Apabila torehan tersebut mengeluarkan nira maka bunga jantan sudah siap disadap. Penyadapan dilakukan dengan memotong tongkol (tandan) bunga pada bagian yang ditoreh. Kemudian pada potongan tongkol dipasang bumbung bamboo sebagai penampung nira yang keluar. Penyadapan nira dilakukan 2 kali sehari (dalam 24 jam) pagi dan sore. Pada setiap penggantian bumbung bamboo dilakukan pembaharuan irisan potongan dengan maksud agar saluran/pembuluh kapiler terbuka, sehingga nira dapat keluar dengan lancer. Setiap tongkol (tandan) bunga jantan dapat dilakukan penyadapan selama 3 – 4 bulan sampai tandan mongering. Hasil dari air aren dapat diolah menjadi gula aren, tuak, cuka dan minuman segar (Suhendi, 2007).
3) Tepung aren
Tepung aren dapat dihasilkan dengan memanfaatkan batang pohon aren dengan proses sebagai berikut :
a. Memiliki batang pohon aren yang banyak mengandung pati/tepungnya dengan cara : Umur pohon relative muda (15 – 25 tahun), Menancapkan kampak atau pahat ke dalam batang sedalam 10 – 12 cm pada dari ketinggian 1,5 m dari permukaan tanah. Periksa ujung kampak atau pahat tersebut apakah terdapat tepung/pati yang menempel. Apabila terdapat tepung/pati, tebang pohon aren tersebut. Potong batang pohon yang sudah ditebang menjadi beberapa bagian sepanjang 1,5 – 2,0 m. Belah dan pisahkan kulit luar dari batang dengan empelurnya. Empelur diparut atau ditumbuk, kemudian dicampur dengan air bersih (diekstraksi). Hasil ekstraksi diendapkan semalaman (±12 jam) dilakukan pemisahan air dengan endapannya. Lakukan pencucian kembali dengan air bersih dan diendapkan lagi, sampai menghasilkan endapan yang bersih. Hasil endapan dijemur sampai kering. Tepung aren dapat dipergunakan sebagai bahan baku seperti mie, soun, cendol, dan campuran bahan perekat kayu lapis.
4) Kolang Kaling
Kolang kaling dapat diperoleh dari inti biji buah aren yang setengah masak. Tiap buah aren mengandung tiga biji buah. Buah aren yang setengah masak, kulit biji buahnya tipis, lembek dan berwarna kuning inti biji (endosperm) berwarna putih agak bening dan lembek, endosperm inilah yang diolah menjadi kolang-kaling. Adapun cara untuk membuat kolang-kaling : Membakar buah aren dengan tujuan agar kulit luar dari biji dan lender yang menyebabkan rasa gatal pada kulit dapat dihilangkan. Biji-biji yang hangus, dibersihkan dengan air sampai dihasilkan inti biji yang bersih. Merebus buah aren dalam belanga/kuali sampai mendidih selam 1-2 jam. Dengan merebus buah aren ini, kulit biji menjadi lembek dan memudahkan untuk melepas/memisahkan dengan inti biji. Inti biji ini dicuci berulang-ulang sehingga menghasilkan kolang-kaling yang bersih.
Untuk menghasilkan kolang-kaling yang baik (bersih dan kenyal) inti biji yang sudah dicuci diendapkan dalam air kapur selama 2 – 3 hari. Setelah direndam dlam air kapur, maka kolang-kaling yang terapung inilah yang siao untuk dipasarkan (Suhendi, 2007).
III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Adapun kegiatan praktikum budidaya tanaman aren ini di laksanakan pada hari Minggu, tanggal 13 November 2016, jam 09.30 sampai dengan selesai. Yang bertempat di desa Kandolo, Teluk pandan
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum mata kuliah budidaya tanaman aren adalah kamera dan alat tulis. Adapun perlengkapan bahan adalah pohon aren yang menjadi bahan pengamatan.
3.3 Cara Kerja
Adapun cara kerja dalam pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengamatan pada salah satu batang induk milik petani aren.
2. Melakukan pertanyaan tentang ruang lingkup budidaya aren, dari pembenihan hingga pelaksanaan panen maupun pasca panen.
3. Mencatat dan mendokumentasi saat kegiatan praktikum berlangsung.
VI. PEMBAHASAN
4.1 Mengenal Desa Kandolo
Desa Kandolo adalah salah satu desa yang terletak di kecamatan Teluk Pandan, desa Kandolo untuk saat ini mempunyai peran penting bagi kabupaten Kutai Timur. Selain mempunyai prospek pengebangan budidaya aren desa kandolo saat ini pula telah mempunyai pohon induk bersertifikat, sehingga dapat memenuhi kebutuhan bibit baik di daerah kita sendiri maupun di luar daerah. Untuk aren yang dibudayakan di Desa Kandolo adalah aren yang bervarietas genjah.
Lahan di Desa Kandolo masih sangat berpotensi untuk dikembangkan pada sektor perkebunan dan pertanian. Lahan yang tersedia masih luas dengan kondisi lahan subur. Jumlah kepemilikan lahan tiap kepala keluarga adalah 1-3 Ha. Dengan mayoritas penduduk pendatang maka sektor agribisnis dapat berkembang dengan baik sebab pendatang telah terbiasa bercocok tanam. Dalam pengembangan ekonomi, perlu diberikan peran yang tepat bagi penduduk asli lokal untuk berperan sesuai dengan pengetahuan dan kemampuannya. Dengan kepemilikn lahan penduduk yang cukup luas sehingga usaha budidaya tanaman aren sangat layak dikembangkan di desa Kandolo.
4.2 Petani aren di Kandolo
Adapun salah satu petani yang membudidayakan tanaman aren di desa tersebut adalah Bapak Agustan yang memiliki 5 pohon induk yang telah berertifikat, pohon ini memiliki criteria paling unggul di antara 75 batang pohon aren yang dimiliki oleh bapak Agustan. Dalam 1 HA lahan terdapat populasi 120 batang tanaman aren dengan menggunakan jarak tanam 7 x 8 meter. Pada saat pembenihan beliau menggunakan tekhnik manual yaitu dengan memasukan biji aren ke dalam karung, kemudian ditempatkan di tempat teduh hingga muncul tunas kurang lebih selama 2 bulan. Untuk pasca panen beliau mengolah nira aren menjadi gula merah.
4.3 Perbedaan bunga jantan dan Bunga betina
Pohon aren adalah salah satu jenis pohon yang memiliki bunga tidak sempurna dimana letak bung jantan dan bunga betina tidak berada dalam satu posisi. Pada dasarnya bunga jantan dan bunga betina tanaman aren terlihan sama jika dilihat dari kejauhan. Namun jika kita lihat dan amati maka jelas terdapat perbedaan yang sangat mencolok pada bunga tanaman aren. Adapun perbedaanya yaitu, bunga betina tanaman aren tumbuh pada ketiak daun bagian atas. Akan tetapi bunga jantan tumbuh pada ketiak daun bagian bawah. Bunga betina tampak bulat dan tumpul sedangkan bunga jantan berbentuk runcing seperti sebuah peluru.
4.4 Batang Aren
Batang aren berdiri Tegak, mempunyai Warna hijau Kecok latan, berpelepah, tidak berduri, tidak bercabang, dimater dapat mencapai 65 cm tanaman lasti mirip degan kelapa, pada batang terdapat ijuk, Ketinggian tanaman dapat mencapai 25 m (jenis dalam) dan 5 meter jenis genjah. Batang pohon aren mengayu di sebelah luar dan agak lunak berserabut di bagian dalam atau empulurnya. Kayunya yang keras ini las dipergunakan sebagai papan, kasau atau dibuat menjadi tongkat, bagi para petani biasanya juga dibuat untuk gagang cangkul.Batang yang dibelah memanjang dan dibuang empulurnya las juga digunakan sebagai talang atau saluran air.
4.5 Pembenihan
Untuk mendapatkan tanaman baru maka dalam proses budidaya taaman aren perlu dilakukanya pembenihan. Dalam proses pembenihan ini hal yang dilakukan adalah pengumpulan biji aren, biji aren dikumpulkan dari buah aren yang telah masak secara fisiologis kemudian jatuh. Biji yang telah terkumpul kemudian di masukan kedalam karung. Untuk penumbuhan benih secara manual dilakukan degan cara membiarkan biji yang ada didalam karung ditempat yang teduh, hingga tumbuh tunas dengan sendirinya kurang lebih selama 2 bulan.
Untuk pembenihan pada umumnya ada cara lain untuk mematahkan dormansi biji aren yaitu dengan cara perendaman dengan zat kimia, pengikisan. Secara Fisik Teknik yang umum dilakukan yaitu skarifikasi/deoperkulasi dengan kertas amplas tepat pada bagian titik tumbuh sampai terlihat bagian embrionya. Skarifikasi memungkinkan air masuk ke dalam benih untuk memulai berlangsungnya perkecambahan. Skarifikasi mengakibatkan hambatan mekanis kulit benih untuk berimbibisi berkurang sehingga peningkatan kadar air dapat terjadi lebih cepat sehingga benih cepat berkecambah. Cara lain yaitu dengan melakukan perendaman dalam air dengan suhu normal atau suhu tinggi (500C), dan perlukaan daerah sekitar embrio selebar 5 mm. Pelaksanakan teknik skarifikasi/deoperkulasi harus hati-hati dan tepat pada posisi embrio berada. Posisi embrio benih aren kadang-kadang berbeda seperti terletak pada bagian punggung sebelah kanan atau kiri, terkadang terletak ditengah-tengah.
Secara Kimia Dilakukan perendaman pada larutan kimia yaitu KNO3, HCl, H2SO4 dan lastic Giberelin/Giberelat (GA3). Teknik aplikasi larutan KNO3 0,5% yaitu benih direndam ke dalam larutan kemudian ditutup dengan lastic yang sudah diberi lubang pada bagian atasnya selama 36 jam.
Perendaman dalam larutan HCl dengan kepekatan 95 % selama 15 – 25 menit, larutan H2SO4 10 % selama 3 jam, sedangkan konsentrasi Giberelin (GA3) yang digunakan antara 100-300 mg/L air dengan waktu perendaman selama 1-3 minggu.
4.6 Bibit Aren
Bibit aren didapat dari hasil pembenihan biji aren, biji aren yang telah dibenihkan akan tumbuh tunas. Setelah biji mengeluarkan tunas dan telah mengeluarkan daun berwarna hijau maka benih aren siap untuk di bibitkan, adapun dalam pembibitan benih aren terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu : Menyiapkan media tanam, untuk media tanam kita bias menggunakan poly bag. Poly bag diisi dengan topsoil atau pupuk kandang. Setelah media tanam siap maka tanam benih aren yang telah mengeluarkann daun bewarna hijau. Dengan cara member lobang polybag dengan menggunakan kayu kemudian masukkan benih aren usahakan tidak melukai bagian akar agar bibit aren dapat tumbuh optimal. Setelah bibit aren berusia kurang lebih 3 bulan maka berilah pupuk pada bibit aren untuk memenuhi kebutuhan unsure hara yang diperlukan.
Untuk pemeliharaan bibit aren, lakukan penyiraman secara rutin kemudian bersihkan bibit dari gulma yang menggangu tanaman sehingga dapat meminimalisir tanaman terserang oleh hama dan penyakit. Dan bibit siap di pindah setelah usia 10 bulan ke atas.
4.7 Panen
Untuk panen yang dilakukan saat praktikum yaitu pemanenan nira. Panen nira dilakukan oleh para petani biasanya pagi hari, adapula petani yang memanenya pagi dan sore hari. Umumnya nira diambil dari bunga jantan dan bunga betina digunakan untuk benih. Hal yang dilakukan sebelum memanen nira, agar nira yang dikeluarkan dari malai banyak adalah dengan melakukan pemukulan pada bagian tangkai malai, pemukulan ini dilakukan dengan cara sedang yaitu tidak terlalu kuat dan tidak terlalu pelan. Hal yang paling utama melakukan pemukulan ini adalah agar terbukanya pori-pori pada bagian bidang sadap sehingga nira yang di keluarkan lebih banyak. Langkah selanjutnya yaitu menggores ujung tangkai menggunakan pisau dengan ketebalan setebal irisan bawang setelah nira keluar maka diujung tangkai yang disadap diberi wadah atau jerigen tempat hasil nira. Biasanya dalam satu hari petani aren genjah dapat menghasilkan kurang lebih 10 liter nira.
4.8 Pasca Panen
Salah satu kegiatan pasca panen pada tanaman aren adalah pengolahan air nira, pada umumnya air nira dapat diolah untuk menjadi beberapa maca produk bahan olahan. Salah satu bahan olahan dari air nira adalah gula merah, dalam pengolahan gula melah langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut : kumpulkan air nira didalam satu tempat perebusan yang besar kemudian panaskan hingga mendidih. Aduk dan biarkan air nira hingga mengental. Setelah rebusan air nira menggental dan bewarna coklat kemerahan. Berarti air nira sudah menjadi gula merah dan siap untuk dicetak dan dibekukan menjadi gula merah. Untuk produksi air nira dalam 10 liter bila dijadikan gula merah maka menjadi 2,5 kg gula merah.
Ijuk dihasilkan dari pohon aren yang telah berumur lebih dari 5 tahun sampai dengan tongkol-tongkol bunganya keluar. Pohon yang masih muda produksi ijuknya kecil. Demikian pula, pohon yang mulai berbunga kualitas dan hasil ijuknya tidak baik. Pemungutan ijuk dapat dilakukan dengan memotong pangkal pelepah-pelapah daun, kemudian ijuk yang bentuknya berupa lempengan anyaman ijuk itu lepas dengan menggunakan parang dari tempat ijuk itu menempel. Lempengan lempengan anyaman ijuk yang baru dilepas dari pohon aren, masih mengandung lidi-lidi ijuk. Lidi-lidi ijuk dapat dipisahkan dari serat-serat ijuk dengan menggunakan tangan. Untuk membersihkan serat ijuk dari berbagai kotoran dan ukuran serat ijuk yang besar, digunakan sisir kawat. Ijuk yang sudah dibersihkan dapat dipergunakan untuk membuat tambang ijuk, sapu ijuk, atap ijuk dll.
Nira aren dihasilkan dari penyadapan tongkol (tandan) bunga, baik bunga jantan maupun bunga betina. Akan tetapi biasanya, tandan bunga jantan yang dapat menghasilkan nira dengan kualitas baik dan jumlah yang banyak. Oleh karena itu, biasanya penyadapan nira hanya dilakukan pada tandan bunga jantan.
Sebelum penyadapan dimulai, dilakukan persiapan penyadapan yaitu : Memilih bunga jantan yang siap disadap, yaitu bunga jantan yang tepung sarinya sudah banyak yang jatuh di tanah. Hal ini dapat dilihat jika disebelah batang pohon aren, permukaan tanah tampak berwarna kuning tertutup oleh tepungsari yang jatuh. Pembersihan tongkol (tandan) bunga dan memukul-mukul serta mengayun-ayunkannya agar dapat memperlancar keluarnya nira. Pemukulan dan pengayunan dilakukan berulang-ulang selama tiga minggu dengan selang dua hari pada pagi dan sore dengan jumlah pukulan kurang lebih 250 kali. Untuk mengetahui, apakah bunga jantan yang sudah dipukul-pukul dan diayun-ayun tersebut sudah atau belum menghasilkan nira, dilakukan dengan cara menorah (dilukai) tongkol (tandan) bunga tersebut. Apabila torehan tersebut mengeluarkan nira maka bunga jantan sudah siap disadap. Penyadapan dilakukan dengan memotong tongkol (tandan) bunga pada bagian yang ditoreh. Kemudian pada potongan tongkol dipasang bumbung bamboo sebagai penampung nira yang keluar. Penyadapan nira dilakukan 2 kali sehari (dalam 24 jam) pagi dan sore. Pada setiap penggantian bumbung bamboo dilakukan pembaharuan irisan potongan dengan maksud agar saluran/pembuluh kapiler terbuka, sehingga nira dapat keluar dengan lancer. Setiap tongkol (tandan) bunga jantan dapat dilakukan penyadapan selama 3 – 4 bulan sampai tandan mongering. Hasil dari air aren dapat diolah menjadi gula aren, tuak, cuka dan minuman segar.
Tepung aren dapat dihasilkan dengan memanfaatkan batang pohon aren dengan proses sebagai berikut : Memiliki batang pohon aren yang banyak mengandung pati/tepungnya dengan cara memerhatikan Umur pohon relative muda (15 – 25 tahun). Menancapkan kampak atau pahat ke dalam batang sedalam 10 – 12 cm pada dari ketinggian 1,5 m dari permukaan tanah. Periksa ujung kampak atau pahat tersebut apakah terdapat tepung/pati yang menempel. Apabila terdapat tepung/pati, tebang pohon aren tersebut. Otong batang pohon yang sudah ditebang menjadi beberapa bagian sepanjang 1,5 – 2,0 m. Belah dan pisahkan kulit luar dari batang dengan empelurnya. Empelur diparut atau ditumbuk, kemudian dicampur dengan air bersih (diekstraksi). Hasil ekstraksi diendapkan semalaman (±12 jam) dilakukan pemisahan air dengan endapannya. Lakukan pencucian kembali dengan air bersih dan diendapkan lagi, sampai menghasilkan endapan yang bersih Hasil endapan dijemur sampai kering. Tepung aren dapat dipergunakan sebagai bahan baku seperti mie, soun, cendol, dan campuran bahan perekat kayu lapis.
Kolang kaling dapat diperoleh dari inti biji buah aren yang setengah masak. Tiap buah aren mengandung tiga biji buah. Buah aren yang setengah masak, kulit biji buahnya tipis, lembek dan berwarna kuning inti biji (endosperm) berwarna putih agak bening dan lembek, endosperm inilah yang diolah menjadi kolang-kaling. Adapun cara untuk membuat kolang-kaling : Membakar buah aren dengan tujuan agar kulit luar dari biji dan lender yang menyebabkan rasa gatal pada kulit dapat dihilangkan. Biji-biji yang hangus, dibersihkan dengan air sampai dihasilkan inti biji yang bersih. Merebus buah aren dalam belanga/kuali sampai mendidih selam 1-2 jam. Dengan merebus buah aren ini, kulit biji menjadi lembek dan memudahkan untuk melepas/memisahkan dengan inti biji. Inti biji ini dicuci berulang-ulang sehingga menghasilkan kolang-kaling yang bersih.
Untuk menghasilkan kolang-kaling yang baik (bersih dan kenyal) inti biji yang sudah dicuci diendapkan dalam air kapur selama 2 – 3 hari. Setelah direndam dlam air kapur, maka kolang-kaling yang terapung inilah yang siao untuk dipasarkan (Raharjo, 1999).
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari pembahasan laporan praktikum ini adalah diharapkan kedepanya tidak hanya di Kandolo saja petani yang membudidayakan tanaman aren. Tetapi perkembangan budidaya aren dapat mencakup wilayah kaltim bahkan seluruh Indonesia. Alasan yang mendasar dilihat dari analisis usaha tani tanaman aren memiliki prospek yang cerah kedepanya. Baik untuk lingkungan maupun untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi para petani.
5.2 Saran
1. Sebaiknya saat pelaksannan praktikum dilaksanakan dengan hati-hati khususnya saatb pengolahan nira.
2. Lebih mengutamakan kekompakan sesama kelompok.
3. Harus dilakukan dengan teliti dan seksama agar proses praktikum ini dapat bermanfaat kedepanya.