Postingan

makalah budidaya tanaman kakao (HPT)


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Tanaman kakao atau cokelat (Theobroma cacao L) merupakan komoditi yang ideal untuk dibudidayakan dengan skala besar maupun skala kecil. Budidaya tanaman kakao relatif mudah dilaksanakan karena tidak memerlukan alat khusus atau keterampilan khusus untuk pembibitan, pemeliharaan dan panen. Tanaman ini sudah dapat menghasilkan sejak umur 18 bulan dan jarak panen  dua minggu sekali (Litbang Deptan, 2005). Usaha budidaya tanaman ini memiliki prospek yang cukup baik karena kebutuhan biji kakao baik dalam dan luar negeri yang terus bertambah dan belum bisa terpenuhi serta harga jual yang cenderung tinggi pada setahun terakhir (Republika, 2014) Budidaya tanaman kakao juga dilakukan oleh beberapa petani di Pulau Kundur Kabupaten Karimun. Kebun kakao skala kecil terdapat di kecamatan Kundur dan Kundur Barat. Hasil panen biji kakao pada umumnya dibeli oleh pengumpul dan dikirimkan ke Tanjung Balai Asahan dalam bentuk biji kering.
Salah satu permasalahan yang terdapat pada usaha budidaya tanaman ini adalah serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit tanaman kakao ini dapat mengakibatkan turunnya hasil panen atau bahkan kematian pada tanaman. Mengingat skala usaha budidaya tanaman ini masih kecil dan sederhana, serangan hama dan penyakit tidak cepat dikendalikan. Hal ini akan memperparah akibat serangan hama dam penyakit pada tanaman kakao.
1.2 Tujuan makalah
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah agar dapat mengetahui hama dan penyakit yang menyerang tanaman kakao dan cara pengendalianya.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kepik Penghisap Buah Helopeltis antonii (Hemiptera: Miridae)
Helopeltis antonii termasuk dalam ordo Hemiptera dan famili Miridae. Serangga ini bertubuh kecil ramping dengan tanda yang spesifik yaitu adanya tonjolan yang berbentuk jarum pada mesoskutelum. Siklus hidup serangga ini termasuk metamorfosis tidak sempurna atau hemimetabola. Untuk menjadi imago dari stadium telur dibutuhkan 17-21 hari dan lama hidup imago betina berkisar antara 10-42 hari dan imago jantan 8-52 hari.
Helopeltis antonii digolongkan sebagai hama karena menyerang tanaman kakao dengan cara merusak dan menghisap cairan buah muda menyebabkan matinya buah tersebut. Sedangkan serangan pada buah berumur sedang mengakibatkan terbentuknya buah abnormal (Atmaja, 2012).
H. antonii merupakan hama penting pada tanaman kakao di Jawa dan Sumatera. Bagian tanaman yang diserang adalah daun muda, tangkai daun, pucuk, dan buah. Pucuk yang terserang terutama yang masih lunak dan daun belum membuka. Buah yang disenangi adalah yang masih muda dan yang mendekati matang. Buah yang terserang menunjukkan bekas tusukan berupa bercak-bercak hitam pada permukaan buah. Pada serangan berat, seluruh permukaan buah di penuhi oleh bekas tusukan berwarna hitam dan kering, kulitnya mengeras serta retak-retak (Djamin, 1980 dalam Atmaja, 2012).
Kehilangan hasil akibat serangan H. Antonii pada tanaman kakao beragam. Serangan pada buah muda yang berukuran kurang dari 5 cm menyebabkan buah kering dan rontok. Serangan berat juga menyebabkan kesehatan tanaman terganggu dan menurunkan produksi hingga 60 %. Apabila buah kakao tidak tersedia, hama ini juga dapat menyerang pucuk, tangkai dan daun yang masih muda.
 2.1.1 Pengendalian Kepik Penghisap Buah
Pengendalian hama kepik penghisap buah pada kakao dapat dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa metode pengendalian atau biasa disebut Pengendalian Hama Terpadu. Beberapa metode pengendalian tersebut antara lain:
1.      Mekanis, Membungkus Buah Dengan Kantung Plastik Buah yang diselubungi dengan kantong plastik akan terhindar dari serangan H. antonii. Penyelubungan buah dengan kantong plastik dapat dilakukan pada buah yang berukuran 8-12 cm dan salah satu ujung lainnya dibiarkan terbuka.
2.      Kultur Teknis, Pemangkasan dan Sanitasi Inang Alternatif Pemangkasan dilakukan dengan cara membuang tunas air (siwilan) yang tumbuh di sekitar perempatan dan cabang-cabang utama secara rutin. Tunas air akan mengganggu pertumbuhan tanaman karena dapat menjadi pesaing dalam pengambilan zat hara dan air dan menjadi tempat peletakan telur H. antonii (Atmaja, 2012). Sanitasi lingkungan kebun juga perlu dilaksanakan kepada inang alternatif H. antonii seperti kapok (Ceiba petandra), rambutan (Nephelium lappasicium), dadap (Erythrina vaginata), albasia (Albizia chinensis)`
3.      Biologis, Penggunaan Predator Semut Hitam Pengendalian H. antonii menggunakan predator semut hitam Dolichoderus thoracicus. Jenis predator cukup prospektif untuk mengendalikan H. antonii. semut ini pada permukaan buah menyebabkan H. antonii tidak bisa meletakkan telur atau mengisap buah karena diserang oleh semut tersebut (Siswanto dan Elna, 2012)
4.      Kimia, Penggunaan Pestisida
Penyemprotan pestisida kimiawi hanya dilakukan satu kali, yaitu bila populasi Helopeltis spp. benar-benar eksplosif.  Selanjutnya pengendalian populasi digunakan cara pengendalian lain seperti dijelaskan sebelumnya. Beberapa insektisida yang dapat digunakan antara lain: Eltametrin 25 g/l, nama dagang: Decis 2,5 EC (racun kontak dan lambung), Sipermetrin 50 g/l, nama dagang: Sidametrin 50 EC (racun kontak dan lambung), Tiametoksam 25%, nama dagang:  Actara 25 WG (racun sistemik dan kontak).
2.2  Penyakit Busuk Buah Phytophtora palmivora (Peronosporales : Pythiaceae)
Phytophthora palmivora adalah patogen yang menyebabkan beragam penyakit pada berbagai jenis tanaman. Patogen ini diyakini berasal di Asia Tenggara tetapi sekarang terdapat di semua negara tropis. Hal ini menyebabkan kerugian yang signifikan bagi petani buah dan sayuran negara-negara tropis. Beberapa tanaman penting yang bisa menjadi inang dari P. palmivora adalah: Kakao, pepaya dan durian (busuk buah), nanas (busuk pangkal daun) serta busuk pucuk pada kacang tanah.        P. palmivora dapat menyerang semua organ atau bagian tanaman, seperti akar, daun, batang, ranting, bantalan bunga, dan buah pada semua tingkatan umur. P. palmivora dapat menginfeksi seluruh permukaan buah, namun bagian paling rentan adalah pangkal buah.
Buah yang terserang awalnya ditandai pembusukan dan disertai bercak coklat kehitaman dengan batas yang tegas gejala ini biasanya dimulai dari pangkal buah kemudia menjadi busuk basah, dan selanjutnya gejala menyebar menutupi seluruh permukaan buah (Wahyudi dkk., 2008 dan Rubiyo, 2013).
Dampak yanng diakibatkan oleh serangan P. palmivora pada buah muda dapat menyebabkan buah membusuk sehingga tidak mungkin dapat dipanen. Sedangkan serangan pada buah yang hampir masak mengakibatkan turunnya kualitas biji kakako (Wahyudi dkk., 2008). Penyakit ini disebarkan melalui percikan air hujan, hubungan langsung antara buah sakit dan buah sehat atau dengan perantara binatang (Wahyudi dkk., 2008).
2.2.1 Pengendalian Penyakit Busuk Buah
Beberapa teknik pengendalian untuk mengatasi penyakit busuk buah adalah sebagai berikut:
1.      Sanitasi, Pemangkasan Buah Busuk
Sanitasi adalah membuang buah busuk saat dilakukan pemangkasan atau panen. Buah busuk tersebut dipendam dalam tanah dengan kedalaman 30cm. Kegiatan sanitasi sebaiknya dilaksanakan lebih sering memasuki musim hujan.
2.      Kimiawi, Penggunaan Fungisida
Penyemprotan fungisida dilakukan sebagai tindakan preventiv mecegah kembalinya serangan P. palmivora setelah sanitasi. Fungisida yang digunakan umumnya berbahan aktif tembaga (merk dagang: Nordox, Kocide77, Cupravit dll.) atau berbahan aktif metalaksil dan mankoseb (merk dagang: Ridomil Gold MZ).
3.      Kultur Teknis, Modifikasi Lingkungan dan Penggunaan Klon Tahan
Perbaikan lingkungan bertujuan untuk mencegah tumbuh dan berkembangnya penyakit seperti Pengaturan dan pemangkasan pohon penaung.
Penanaman klon tanama yang tahan akan serangan P. palmivora seperti Klon kakao ICS 6, Sca 12, Sca 6 DRC 15, DRC 16, ICCRI 4 dan ICCRI 3 yang merupakan klon kakao yang mempunyai tingkat ketahanan lebih baik dibandingkan klon yang lain di Indonesia (Rubiyo, 2013).
Pengendalian penyakit busuk buah ditentukan dari tingkat intensitas serangan.
Intensitas serangan P. palmivoradihitung berdasarkan persentase buah sakit per pohon. Apabila intensitas serangan rendah (kurang dari 5%) dapat dilakukan dengan sanitasi. Intensitas serangan sedang (5% sampai 25%) dilakukan dengan sanitasi dan fungisida. Apabila intensitas serangan tinggi (diatas 25%) dilakukan dengan kombinasi sanitasi, fungisida dan kultur teknis (Wahyudi dkk., 2008).
2.3 Penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella
Gejala serangan pada buah (warna kuning tidak merata) Hama kakao ini sangat merugikan. Serangannya dapat merusak hampir semua hasil. Penggerek Buah Kakao dapat menyerang buah sekecil 3 cm, tetapi umumnya lebih menyukai yang berukuran sekitar 8 cm. Ulatnya merusak dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah, daging buah dan saluran ke biji. Buah yang terserang akan lebih awal menjadi berwarna kuning, dan jika digoyang tidak berbunyi. Biasanya lebih berat daripada yang sehat. Biji-bijinya saling melekat, berwarna kehitaman serta ukuran biji lebih kecil. Hama ini dapat dikendalikan dengan :
1.      sanitasi, Cara sanitasi penting untuk mematikan PBK yang ada dalam buah yang sudah dipanen. Jika tidak dimatikan, PBK tersebut dapat berkembangbiak dan menyerang buah yang masih ada di pohon. Setelah buah dipanen, seluruhnya dibelah, Kulit buah dimasukkan ke dalam lobang dan ditutup dengan tanah atau dengan plastik untuk membunuh larva yang masih ada / hidup pada buah. Jika tidak segera dikerjakan simpanlah buah dalam karung plastik yang diikat rapat. Cara tersebut mencegah PBK keluar dan menyerang buah yang belum masak di pohon.
2.      pemangkasan, Pemangkasan juga bermanfaat untuk mengendalikan PBK. Melalui pemang-kasan kita mengurangi / membuang cabang, ranting, dan daundaun yang tidak berguna sehingga penggunaan zat makanan lebih efektif, dan tanaman kakao akan semakin baik pertumbuhannya, bukan hanya dalam hal tajuk tetapi juga dalam pertumbuhan buah. Selain itu, pemangkasan akan memberikan banyak penetrasi sinar matahari, serta gerakan angin yang bebas sehingga akan mengurangi serangan PBK. Karena itu, lakukanlah pemangkasan yang tepat waktu dan cara benar, baik dalam pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi, maupun pemangkasan
3.      pemeliharaan. Pemupukan Dampak utama pemupukan terhadap tanaman kakao adalah merangsang pertumbuhan yang baik. Dampak ini meningkatkan ketahanan kakao terhadap PBK. Tanaman kakao yang tumbuh sehat akan lebih tahan terhadap serangan PBK. Karena itu, lakukanlah pemupukan yang benar dengan memperhatikan dosis, jenis, cara, waktu, dan tempat. membenam kulit buah,
4.      memanen satu minggu sekali, Untuk menurunkan jumlah PBK,sebaiknya semua buah yang sudah masak atau masak awal dipanen seminggu sekali. Cara ini menghindari perpanjangan perkembangan / Daur hidup PBK dikebun.
5.      kondomisasi, dapat mencegah serangan PBK. Kantong tersebut harus dilobangi di bagian bawah supaya air dapat keluar. Jika tidak dilubangi, mungkin buah kakao akan membusuk. Saat yang tepat pengantongan adalah pada saat ukuran panjang buah sekitar 8 cm.
6.       serta dengan cara hayati/biologi  dengan menggunakan musuh alami.
2.4 Tikus dan tupai / bajing Famili.
Tikus merupakan hama penting, karena serangannya sangat merugikan. Buah kakao yang terserang akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan air hujan dan serangan bakteri atau jamur. Serangan tikus dapat dibedakan dengan serangan tupai/bajing. Tikus menyerang buah kakao yang masih muda dan memakan biji beserta dagingnya. Tikus menyerang terutama pada malam hari. Gejala serangan tupai/bajing umumnya dijumpai pada buah yang sudah masak karena tupai hanya memakan daging buah, sedangkan bijinya tidak dimakan. Biasanya, di bawah buahbuah yang terserang tupai/bajing selalu berceceran biji-biji kakao. Jadi, tikus benarbenar hama, tetapi tupai tidak karena biji bisa dikumpulkan kembali. Tupai menjadi hama (merugikan) apabila biji-biji tadi tidak dikumpulkan.
Pengendalian tikus dilakukan dengan sanitasi dan dengan cara hayati. Juga dapat digunakan umpan racun tikus (rodentisida) dan dengan menggunakan  cara mekanis (perangkap)
2.5 Penyakit Vascular streak dieback (VSD).
Penyakit VSD disebabkan oleh O. theobromae, yang dapat menyerang di pembibitan sampai tanaman dewasa. Gejala tanaman terserang, daun-daun menguning lebih awal dari waktu yang sebenarnya dengan bercak berwarna hijau, dan gugur sehingga terdapat ranting tanpa daun (ompong). Bila permukaan bekas menempelnya daun diiris tipis, akan terlihat gejala bintik 3 kecoklatan. Permukaan kulit ranting kasar dan belang, bila diiris memanjang tampak jaringan pembuluh kayu yang rusak berupa garis-garis kecil (streak) berwarna kecoklatan. Penyebaran penyakit melalui spora yang terbawa angin dan bahan vegetatif tanaman. Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban. Embun dan cuaca basah membantu perkecambahan spora. Pelepasan dan penyebaran spora sangat dipengaruhi oleh cahaya gelap.    
Pengendalian penyakit :
1.      Dengan memotong ranting/cabang terserang sampai 30cm pada bagian yang masih sehat kemudian dipupuk NPK 1,5 kali dosis anjuran.
2.      Pemangkasan bentuk yang sekaligus mengurangi kelembaban dan memberikan sinar matahari yang cukup. Pemangkasan dilakukan pada saat selesai panen sebelum muncul flush.
3.       Parit drainase dibuat untuk menghindari genangan air dalam kebun pada musim hujan.-Untuk pencegahan, tidak menggunakan bahan tanaman kakao dari kebun yang terserang VSD, dan menanam klon kakao yang tahan atau toleran terhadap VSD.
2.6 Busuk buah Phytophthora palmivora
Penyakit ini disebabkan oleh jamur P. palmivora yang dapat menyerang buah muda sampai masak. Buah yang terserang nampak bercak bercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari pangkal, tengah atau ujung buah. Apabila keadaan kebun lembab, maka bercak tersebut akan meluas dengan cepat ke seluruh permukaan buah, sehingga menjadi busuk, kehitaman dan apabila ditekan dengan jari terasa lembek dan basah. Penyebaran penyakit dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab terutama pada musim hujan. Buah yang membusuk pada pohon juga mendorong terjadinya infeksi pada buah lain dan menjalar kebagian batang/cabang. Patogen ini disebarkan oleh angin dan air hujan melalui spora. Pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan di dalam tanah. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada daerah yang mempunyai curah hujan tinggi, kelembaban udara dan tanah yang tinggi terutama pada pertanaman kakao dengan tajuk rapat. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan :
1.      Sanitasi kebun
2.      mekanis (mengumpulkan dan membakar buah yang terserang)
3.      kultur teknis
4.      Pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao merupakan hal yang penting dilakukan terutama pada musim hujan
5.      Penanaman klon resisten atau toleran merupakan cara yang wajib diperhatikan.
2.6 Kanker batang Phytophthora palmivora
Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang sama dengan penyebab penyakit busuk buah. Gejala kanker diawali dengan adanya bagian batang/cabang menggembung berwarna lebih gelap/ kehitam-hitaman dan permukaan kulit retak. Bagian tersebut membusuk dan basah serta terdapat cairan kemerahan yang kemudian tampak seperti lapisan karat. Jika lapisan kulit luar dibersihkan, maka akan tampak lapisan di bawahnya membusuk dan berwarna merah anggur kemudian menjadi coklat. Penyebaran penyakit kanker batang sama dengan penyebaran penyakit busuk buah. Penyakit ini dapat terjadi karena pathogen yang menginfeksi buah menjalar melalui tangkai buah atau bantalan bunga dan mencapai batang/cabang. Penyakit ini berkembang pada kebun kakao yang mempunyai kelembaban dan curah hujan tinggi atau sering tergenang air.
Pengendalian penyakit :
1. Dapat dilakukan dengan mengupas kulit batang yang membusuk sampai batas kulit yang sehat. Luka           kupasan dioles dengan fungisida tertentu.
2. Pemangkasan pohon pelindung dan tanaman kakao dilakukan agar di dalam kebun tidak lembab.
3. Apabila serangan pada kulit batang sudah hampir melingkar, maka tanaman dipotong atau dibongkar.
2.7 Antraknose Colletotrichum gloeosporioides
Penyakit antraknose disebabkan oleh jamur. C. gloeosporioides yang menyerang buah, pucuk/daun muda dan ranting muda. Pada daun muda nampak bintik-bintik coklat tidak beraturan dan dapat menyebabkan gugur daun. Ranting gundul berbentuk seperti sapu dan mati. Pada buah muda nampak bintik-bintik coklat yang berkembang menjadi bercak coklat berlekuk (antraknose). Buah muda yang terserang menjadi layu, kering, dan mengeriput. Serangan pada buah tua akan menyebabkan gejala busuk kering pada ujungnya. Penyakit ini tersebar melalui spora yang terbawa angin ataupun percikan air hujan. Penyakit cepat berkembang terutama pada musim hjan dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi.  Pengendalian penyakit :
1.      Dilakukan dengan dengan memangkas cabang & ranting yang terinfeksi, mengambil buah-buah yang sakit dikumpulkan dan ditanam atau dibakar
2.      Melakukan pemupukan (N,P,K) satu setengah kali dosis anjuran.
3.      Pengaturan naungan sehingga tajuk pohon kakao tidak terkena sinar matahari langsung dan
4.      Perbaikan drainase tanah untuk menghindari genangan air di dalam  kebun.
2.7 Jamur akar Ganoderma philippii
Ada tiga jenis penyakit jamur akar pada tanaman kakao, yaitu: (1) Penyakit jamur akar merah; (2) Penyakit jamur akar coklat; (3) Penyakit jamur akar putih. Ketiganya menular melalui kontak akar, umumnya penyakit akar terjadi pada pertanaman baru bekas hutan. Pembukaan lahan yang tidak sempurna, karena banyak tunggul dan sisa-sisa akar sakit dari tanaman sebelumnya tertinggal di dalam tanah akan menjadi sumber penyakit. Ketiga jenis penyakit ini mempunyai gejala: daun menguning, layu dan gugur, kemudian diikuti dengan kematian tanaman. Untuk mengetahui penyebabnya, harus melalui pemeriksaan akar. Pencegahan penyakit dilakukan dengan :
1.        Membongkar semua tunggul pada saat persiapan lahan terutama yang terinfeksi jamur akar.
2.        Lubang bekas bongkaran diberi 150gr belerang dan dibiarkan minimal 6 bulan.
3.        Pada saat tanam diberi 100 gr Trichoderma sp. per lubang.
4.        Pada areal pertanaman, pohon kakao yang terserang berat dibongkar sampai ke akarnya dan dibakar di tempat itu juga.
5.        Lubang bekas bongkaran dibiarkan terkena sinar matahari selama 1 tahun.
6.        Minimal 4 pohon di sekitarnya diberi Trichoderma sp. 200gr/pohon pada awal musim hujan dan diulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala penyakit akar di areal pertanaman kakao tersebut.
2.8 Jamur upas Corticium salmonicolor
Penyakit jamur upas dapat menyerang tanaman kakao, karet, kopi, teh, kina dan lain-lain. Infeksi jamur ini pertama kali terjadi pada sisi bagian bawah cabang ataupun ranting. Apabila menyerang ranting dan cabang kecil umumnya tidak menimbulkan kerugian yang berarti, karena dengan memotong ranting/cabang kecil yang terserang cukup untuk mengendalikan jamur ini dan tumbuhnya bunga pada ranting dan cabang kecil tidak kita harapkan. Serangan dimulai dengan adanya benangbenang jamur tipis seperti sutera, berbentuk sarang laba-laba. Pada fase ini jamur belum masuk ke dalam jaringan kulit. Pada bagian ujung dari cabang yang sakit, tampak daun-daun layu dan banyak yang tetap melekat pada cabang, meskipun sudah kering. Jamur ini menyebar melalui tiupan angina atau percikan air. Keadaan lembab dan kurang sinar matahari sangat membantu perkembangan penyakit ini. Pengendalian dapat dilakukan :
1.      Dengan cara mekanis, yaitu memotong cabang/ranting sakit sampai 15 cm pada bagian yang masih sehat; membersihkan /mengeruk benangbenang jamur pada gejala awal dari cabang yang sakit, kemudian diolesi dengan fungisida.
2.      Cara kedua adalah dengan kultur teknis, yaitu pemangkasan pohon pelindung untuk mengurangi kelembaban kebun sehingga sinar matahari dapat masuk ke areal pertanaman kakao.

BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah ada banyak sekali jenis hama penyakit yang menyerang tanaman kakao jadi harus dilakukan penngendalian secara dini. Agar tidak berakibat buruk terhadap prokduktifitas tanaman kakao nantinya.
3.2  Saran
Agar makalah ini menjadi lebih baik maka mohon beri saran yang bersifat membangun bagi penulis.



DAFTAR PUSTAKA
Atmadja Warsi Rahmat, 2012, Pengendalian Helopeltis Secara Terpadu Pada Tanaman Perkebunan, Bogor, Unit Penerbitan Dan Publikasi Balitro.
Rubiyo dan Widi Amaria, 2013, Ketahanan Tanaman Kakao Terhadap Penyakit Busuk Buah (Phytophthora palmivora Butl.), Sukabumi, Jurnal Perspektif  Vol. 12 No. 1/Juni 2013. Hlm  23-36
Wahyudi T, dkk., 2008, Panduan Lengkap Kakao Manajemen Agribisnis Dari Hulu Hingga Hilir, Depok, Penebar Swadaya.

Posting Komentar